Dari London Warriors ke NFL: Kisah Seydou Traore, Pemain Inggris Pertama yang Lulus Jalur Akademi
Baca dalam 60 detik
- Seydou Traore menjadi lulusan pertama NFL Academy Inggris yang berhasil menembus NFL setelah dipilih Miami Dolphins di ronde kelima draft 2025.
- Perjalanannya penuh rintangan: pindah ke AS pada usia 18 tahun, lima tahun tanpa bertemu keluarga, dan harus beradaptasi dari posisi kiper sepak bola menjadi tight end.
- Kontrak rookie empat tahun senilai $4,8 juta menjadi bukti bahwa jalur non-tradisional dari Inggris ke NFL kini terbuka lebar.

Panggilan telepon yang dinanti selama empat jam itu akhirnya datang. Seydou Traore, pemuda 23 tahun asal London selatan, mendengar kabar yang mengubah hidupnya: ia resmi menjadi bagian dari National Football League (NFL) setelah dipilih oleh Miami Dolphins pada ronde kelima draft 2025. Di sampingnya, sang ibu, Zaia, meledak dalam suara trilling khas Afrika Utara—zaghrouta—yang kemudian viral di media sosial. Bagi Traore, momen itu bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan puncak dari perjalanan panjang yang dimulai dari lapangan sepak bola di Inggris.
Traore adalah lulusan pertama NFL Academy Inggris yang menyelesaikan seluruh jalur pengembangan hingga draft. Akademi yang berbasis di Loughborough ini dirancang untuk merekrut atlet dari berbagai latar belakang olahraga, tanpa syarat pengalaman American football. Setiap tahun, hanya sekitar 0,08% dari satu juta remaja yang bermain American football di sekolah menengah AS yang berhasil mencapai NFL. Peluang bagi pemain internasional seperti Traore bahkan lebih tipis. Namun, ia membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan bisa mengatasi segala rintangan.
Perjalanan Traore dimulai saat ia berusia 16 tahun, ketika bergabung dengan klub London Warriors. Dua tahun kemudian, ia diterima di NFL Academy. Pada musim panas 2020, ia memberi tahu ibunya bahwa ia akan pindah ke Amerika Serikat untuk bersekolah di Clearwater Academy, Florida. Tanpa sepengetahuan Zaia, putranya telah mendapatkan beasiswa di sekolah yang terkenal merekrut pemain internasional. "Aku tidak mampu datang menjengukmu, kamu akan sendirian di sana," kata Zaia kala itu. Traore pun berangkat, meninggalkan keluarga selama lima tahun penuh.
Di Clearwater, pelatih kepala Jesse Chinchar awalnya hanya melihat rekaman seorang pemain jangkung setinggi 6 kaki 3 inci yang melompat menangkap bola dengan satu tangan. "Saya mencari lebih jauh, tapi tidak ada rekaman pertandingan, hanya klip aksi atletik," ujar Chinchar. Namun, ia segera menyadari potensi besar Traore. Dalam hitungan hari, Traore menguasai playbook pertama—ibarat belajar bahasa baru—dan langsung dominan melawan pemain yang sudah bertahun-tahun bermain. Latar belakangnya sebagai kiper sepak bola memberinya keunggulan dalam koordinasi mata-tangan dan kemampuan membaca bola.
Karier kuliah Traore penuh liku. Ia sempat bermain untuk Arkansas State, lalu pindah ke Colorado pada awal 2023. Di sana, ia menghadapi kritik dari pelatih yang meragukan mentalitasnya. Namun, mantan pelatihnya di Arkansas State, Butch Jones—yang pernah melatih bintang NFL Travis Kelce—membandingkan Traore dengan Kelce. "Ukuran dan posturnya, cara berlari dan menangkap bola, membuatnya langka," kata Jones. Bahkan, Jones mengatur panggilan video dengan Kelce untuk meyakinkan Traore agar pindah ke Arkansas State dan beralih posisi menjadi tight end. Traore menyebut dirinya "bola tanah liat besar" yang siap dibentuk.
Setelah satu semester di Colorado, Traore pindah ke Mississippi State yang bermain di konferensi paling prestisius, Southeastern. Namun, aturan NCAA mengharuskannya tidak bermain sepanjang 2023 karena dua kali pindah dalam waktu singkat. Ia hanya bisa berlatih. "Itu justru membuat saya semakin menginginkannya," kenang Traore. Ketika akhirnya bermain pada 2024, ia menjadi salah satu ancaman utama dalam serangan. Musim 2025 menjadi puncaknya: lima touchdown dan selebrasi khas menyeruput teh yang menjadi favorit penggemar.
Saat draft tiba, Traore diproyeksikan dipilih pada hari terakhir. Miami Dolphins menghubunginya di akhir ronde kelima. Mantan pemain NFL asal Inggris, Efe Obada, yang juga alumnus London Warriors, "membajak" pengumuman tersebut. Ia berlari ke ruang komisioner Roger Goodell dan meminta untuk mengumumkan nama Traore. "Saya pikir itu simbolis, mewariskan obor," kata Obada. "Olahraga ini tentang ketahanan dan komitmen."
Bagi Indonesia, kisah Traore menjadi inspirasi bahwa jalur menuju liga olahraga profesional global tidak selalu harus melalui sistem tradisional. NFL Academy telah membuka pintu bagi atlet dari negara-negara non-tradisional, termasuk potensi dari Asia. Dengan lebih dari 40 siswa akademi yang kini mendapat beasiswa kuliah di AS, model pengembangan bakat semacam ini bisa menjadi cetak biru bagi olahraga lain di Indonesia. Pertanyaannya, kapan akan muncul atlet Indonesia yang menembus NFL atau liga top dunia melalui jalur serupa?
"Ini baru permulaan," ujar Traore saat ditanya tentang langkah selanjutnya. Ia kini berjuang untuk merebut tempat di skuad utama Miami Dolphins sebelum batas akhir pemotongan roster pada 31 Agustus.



