DAZN Tertekan, Pemegang Saham Minoritas Siap Lepas Kepemilikan
Baca dalam 60 detik
- Aser Ventures, perusahaan investasi Andrea Radrizzani, berencana menjual sebagian atau seluruh sahamnya di DAZN untuk mendanai ekspansi.
- Langkah ini mencerminkan tekanan finansial di industri streaming olahraga, di mana DAZN masih mencatat kerugian besar meski sudah membaik.
- Potensi restrukturisasi dan pencarian mitra baru di DAZN bisa membuka peluang bagi investor Asia, termasuk dari Indonesia, di sektor sports-tech.

Pemegang saham minoritas platform streaming olahraga DAZN, Aser Ventures, tengah menjajaki opsi untuk melepas sebagian kepemilikannya. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pendanaan ekspansi bisnis perusahaan investasi yang dipimpin pengusaha Italia Andrea Radrizzani tersebut.
Aser Ventures masuk menjadi pemegang saham DAZN pada 2023, ketika platform streaming itu mengakuisisi ELEVEN Group, kompetitor yang lebih kecil. Dalam kesepakatan itu, Aser memperoleh sekitar 5 persen saham DAZN yang saat itu bernilai sekitar 400 juta dolar AS. Namun, nilai dan porsi kepemilikan itu terus tergerus akibat sejumlah aksi korporasi, termasuk rights issue yang dilakukan DAZN.
Radrizzani, yang juga duduk di jajaran direksi DAZN, mengonfirmasi bahwa perusahaannya tengah menjajaki berbagai skema pendanaan. "Kami sedang mengeksplorasi berbagai opsi, mulai dari pembiayaan murni, solusi hibrida, hingga investasi ekuitas," ujarnya kepada Reuters. Ia menambahkan, Aser lebih memilih bermitra dengan dana investasi atau family office yang sudah memiliki pengalaman di sektor sports-tech.
Langkah Aser ini menjadi sinyal terbaru dari tekanan yang dihadapi industri streaming olahraga. DAZN, yang didukung miliarder Inggris-Amerika Len Blavatnik, mengandalkan model bisnis berbasis langganan untuk menayangkan siaran langsung berbagai cabang olahraga seperti sepak bola, tinju, dan bisbol. Model ini terbukti sangat padat modal, memaksa Blavatnik berkali-kali menyuntikkan dana segar ke perusahaan, sebagaimana tercatat dalam dokumen korporasi.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati. Industri streaming olahraga di Tanah Air juga tengah bergeliat, dengan pemain lokal seperti Vidio dan Mola yang gencar memburu hak siar. Potensi masuknya investor Asia, termasuk dari Indonesia, ke DAZN bisa menjadi katalis baru bagi persaingan di kawasan. Apalagi, DAZN disebut-sebut tengah merombak struktur korporasinya untuk memudahkan pencarian dana dan menjajaki kemungkinan pencatatan saham di bursa (IPO), seperti dilaporkan Financial Times pada Juni lalu.
Radrizzani menegaskan bahwa tujuan akhir dari langkah ini adalah memperkuat posisi Aser di sektor olahraga dan teknologi yang dinamis. "Kami ingin menjajaki kemitraan strategis dan finansial untuk memperluas investasi Aser di sektor olahraga dan teknologi yang tumbuh cepat," katanya. Namun, ia enggan mengungkapkan besaran kepemilikan Aser saat ini maupun nilai pasarnya.
DAZN sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas rencana ini. Dengan kerugian yang masih menganga meski sudah membaik, masa depan platform ini masih bergantung pada kemampuan menarik investor baru dan memperbaiki fundamental bisnis. Pertanyaan besarnya, akankah investor Asia, termasuk dari Indonesia, tertarik masuk ke dalam pusaran industri streaming olahraga global yang penuh risiko ini?



