The Singapore Martini Club: Lebih dari 50 Varian Martini dalam Balutan Gerbong Kereta Mewah
Baca dalam 60 detik
- Komisi Pemberantasan Korupsi mengamankan uang tunai dan rekening senilai total Rp2,7 miliar dalam operasi tangkap tangan terhadap Bupati Pemalang Anom Widiyantoro.
- Kasus ini terbagi dalam dua klaster: dugaan pemerasan oleh bupati terhadap pejabat daerah dan swasta, serta pemerasan terhadap bupati yang melibatkan seorang polisi yang sedang bertugas di KPK.
- Lima tersangka ditetapkan, termasuk Anom Widiyantoro, orang kepercayaannya, serta seorang polisi dan ayahnya yang diduga menerima aliran dana.

Sebuah bar koktail baru di Singapura mengajak pengunjung menjelajahi dunia martini dalam balutan kemewahan perjalanan kereta api era keemasan. The Singapore Martini Club, yang berlokasi di Orchard Rendezvous Hotel, menawarkan lebih dari 50 varian martiniโdari resep klasik hingga kreasi modernโdalam ruang yang dirancang menyerupai gerbong kereta mewah.
Konsep ini lahir dari tangan Dario Knox, seorang veteran bar yang juga menciptakan The Backdrop di Voco Orchard Singapore. Knox dikenal dengan estetika vintage yang kental, dan kali ini ia menghadirkan fasad bar yang menyerupai gerbong kereta tua. Di dalam, kursi dekat jendela dirancang seperti kompartemen pribadi, sementara kursi berlapis kain lembut dan sentuhan dekoratif klasik memperkuat atmosfer perjalanan kereta jarak jauh. Pengunjung juga dapat duduk di bar dan menyaksikan para bartender meracik minuman.
Menu di The Singapore Martini Club mengusung tema perjalanan melalui serangkaian 'stasiun' rasa, antara lain Zesty, Fruity, Tea, Savoury, dan Pop Culture. Setiap stasiun menawarkan pilihan martini yang unik. Misalnya, Karuizawa Martini (S$25) yang memadukan vodka, apel hijau, shiso, seledri, dan jeruk nipis untuk sensasi segar dan herbal. Sementara Mayfair Night Martini (S$24) menggabungkan gin, teh Earl Grey, violet, dan lemon. Bagi pencinta rasa pedas, Tokyo Spice Martini (S$25) menggunakan tequila dengan bumbu shichimi dan lemon.
Salah satu minuman andalan adalah Sub-Zero Dirty Martini (S$36), kreasi rumah yang terbuat dari campuran gin, brine, dan vermouth kering. Minuman ini didinginkan hingga di bawah 0 derajat Celsius dan disajikan di meja tamu, menghasilkan sensasi dingin, halus, dan kuat. Bagi penggemar martini klasik, tersedia pilihan seperti Dry Martini, Vesper, Dirty Martini, Bone-Dry Martini, dan Gibson. Sementara itu, pemula dapat memulai dengan tasting flight yang berisi tiga martini buah.
Tak hanya minuman, The Singapore Martini Club juga memberikan perhatian khusus pada zaitun. Menu menyajikan zaitun premium dari berbagai daerah di dunia, yang dipilih untuk melengkapi profil vermouth dan spirit tertentu. Untuk menemani minuman, tersedia hidangan seperti Tuna Belly Tartare dengan Wijen dan Yuzu (S$28) serta Calabrese Bikini dengan Miso (S$25). Sebagai penutup, pengunjung dapat menikmati Affogato alla Vaniglia (S$16) dengan sentuhan alkohol, yaitu mengganti espresso dengan Espresso Martini dengan biaya tambahan.
Bagi para pelancong Indonesia yang berkunjung ke Singapura, The Singapore Martini Club menawarkan pengalaman bersantap dan minum yang unik, menggabungkan nostalgia perjalanan kereta api dengan inovasi koktail. Konsep ini dapat menjadi inspirasi bagi bar-bar di Indonesia untuk mengembangkan tema serupa, mengingat tren koktail artisan dan pengalaman tematik semakin diminati di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali. Dengan harga yang bersaing dan suasana yang instagramable, bar ini berpotensi menarik wisatawan Indonesia yang mencari pengalaman malam hari yang berbeda.
Ke depannya, The Singapore Martini Club berencana untuk terus memperbarui menu sesuai musim dan tren. Pertanyaannya, akankah konsep serupa muncul di Indonesia? Dengan semakin berkembangnya industri bar dan koktail di Tanah Air, bukan tidak mungkin pengusaha lokal akan mengadopsi ide ini untuk menarik pelanggan yang haus akan pengalaman baru.



