Gratis Biaya Lisensi, Malaysia Raup Cuan dari Balapan Formula 1 Sekali Pakai
Baca dalam 60 detik
- Malaysia akan menggelar satu putaran Formula 1 di Sirkuit Sepang pada 4 Oktober 2026, menggantikan Bahrain yang dibatalkan karena konflik Timur Tengah, dengan biaya lisensi ditanggung sepenuhnya oleh Bahrain.
- Pemerintah Malaysia hanya mengeluarkan sekitar RM16 juta untuk perbaikan trek, sementara potensi pendapatan pariwisata diperkirakan mencapai RM500 juta, menjadikan ajang ini sebagai uji coba kembalinya F1 secara permanen.
- Para pengamat mendorong pengemasan tiket dengan paket wisata budaya dan akomodasi agar dampak ekonomi tidak hanya terpusat di sekitar sirkuit, sekaligus menjadi alat promosi Visit Malaysia 2026.

Malaysia mendapatkan kesempatan emas menjadi tuan rumah satu putaran Formula 1 secara gratis setelah Bahrain bersedia menanggung seluruh biaya lisensi, membuka peluang bagi negara itu untuk menguji pamor pariwisata sekaligus mempertimbangkan kembalinya balapan jet darat secara permanen ke Sirkuit Sepang.
Balapan yang akan digelar pada 4 Oktober 2026 itu resmi diumumkan pada 26 Juli lalu, menggantikan Grand Prix Bahrain yang batal akibat konflik di Timur Tengah sejak Februari. Sirkuit Sepang, yang terletak di dekat Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), menjadi pilihan utama karena masih memegang sertifikasi Grade 1 dari Federasi Otomotif Internasional (FIA) โ syarat mutlak untuk menggelar balapan F1. Kedekatan geografis dengan Singapura, yang akan menggelar balapan akhir pekan berikutnya, juga menjadi nilai tambah logistik.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam pidatonya di Negeri Sembilan menegaskan bahwa Bahrain sepakat menanggung biaya registrasi dan lisensi yang diperkirakan mencapai RM300 juta per tahun. Malaysia hanya perlu mengeluarkan dana maksimal RM16 juta untuk perbaikan minor lintasan. "Kami menyelenggarakannya secara gratis, bayangkan itu," ujar Anwar, seraya menyebut Malaysia akan menjadi pusat perhatian dunia.
Keputusan ini menjadi ironi mengingat Malaysia menghentikan penyelenggaraan F1 setelah musim 2017 karena biaya yang membengkak dan imbal hasil yang menurun. Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu, Hannah Yeoh, pada 2025 bahkan menyatakan tidak ada rencana untuk menghidupkan kembali ajang tersebut karena komitmen finansial mencapai RM900 juta hingga RM1,5 miliar untuk kontrak tiga hingga lima tahun.
Para pengamat ekonomi pariwisata melihat ajang ini sebagai momentum yang tak boleh disia-siakan. Mohd Hafiz Hanafiah, profesor ekonomi pariwisata dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Selangor, menyebut akhir pekan balapan mampu memenuhi hotel di Lembah Klang, meningkatkan permintaan restoran dan transportasi, serta mendongkrak belanja selama tiga hingga empat hari. "Ini adalah aliran pendapatan terkait pariwisata yang benar-benar berharga dengan risiko rendah karena tidak perlu membayar biaya tuan rumah," katanya.
Namun, tantangan terbesar adalah lokasi Sirkuit Sepang yang berada sekitar 1,5 jam berkendara dari pusat Kota Kuala Lumpur. Tanpa pengemasan yang tepat, belanja pengunjung hanya akan terpusat di area sekitar sirkuit. Jake Abdullah, direktur agensi pemasaran Malaysian Dynamic Media, mendesak agar tiket dikemas dengan paket akomodasi, transportasi, dan atraksi lokal. "Siapa pun bisa menaikkan tarif kamar. Hampir tidak ada yang akan menjual paket tiga malam dengan transportasi, makanan, dan sesuatu yang lokal yang layak diingat, lalu menjualnya kepada penggemar yang belum pernah menginjakkan kaki di sini. Di situlah marginnya," ujarnya.
Antusiasme publik sudah terlihat. Sebuah unggahan di Instagram bojomalaysia yang membahas antrean tiket bahkan sebelum detail resmi dirilis mendapat lebih dari 7.000 suka dan 5.000 bagikan. Pengecekan terhadap tiga hotel di dekat sirkuit menunjukkan kamar sudah penuh untuk periode 1-5 Oktober. Satu hotel di dekat KLIA yang masih tersedia mematok harga hampir RM1.000 per malam โ empat kali lipat tarif normal.
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik dicermati. Malaysia memanfaatkan momentum tanpa beban biaya lisensi, sementara Indonesia sendiri masih berupaya mengembangkan sirkuit Mandalika untuk ajang internasional. Keberhasilan Malaysia dalam mengelola balapan satu kali ini bisa menjadi tolok ukur bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam merayu penyelenggara global tanpa harus terbebani biaya besar.
Hans Westerbeek, profesor bisnis olahraga internasional dari Victoria University Australia, mengingatkan bahwa waktu persiapan yang singkat akan menyulitkan optimalisasi dampak ekonomi. Meski demikian, ia optimistis pemangku kepentingan seperti Petronas โ sponsor utama tim Mercedes-AMG F1 โ sangat menginginkan kembalinya balapan di Malaysia dalam jangka panjang. "Semua orang tahu bahwa acara Netflix seperti 'Drive to Survive' telah membuat ajang ini sangat populer di kalangan pasar sasaran yang sebelumnya tidak tertarik. Malaysia dapat merombak era 2017 dan memulai lagi dengan pengetahuan dan minat yang baru," ujarnya.
Balapan Oktober nanti dinilai sebagai "tes lakmus" bagi masa depan F1 di Malaysia. Jika sukses, bukan tidak mungkin Liberty Media dan pemerintah Malaysia duduk bersama untuk membahas kembalinya Sepang secara permanen ke kalender F1. Namun, jika gagal memberikan pengalaman yang mulus โ mulai dari kemacetan hingga harga yang mencekik โ reputasi Malaysia sebagai tuan rumah bisa tercoreng. Pertanyaannya: akankah Malaysia mampu mengubah kesempatan sekali ini menjadi panggung permanen?



