Gempa Jepang: Listrik Padam dan Suhu 40°C, Pengungsi Pilih Bertahan di Mobil
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 7,1 di Kumamoto memicu pemadaman listrik dan krisis tempat pengungsian, memaksa ribuan warga bertahan di dalam mobil di tengah suhu ekstrem.
- Risiko 'sindrom kelas ekonomi' akibat duduk terlalu lama di mobil menjadi perhatian utama, mengingat pengalaman serupa pada gempa 2016 yang menyebabkan masalah kesehatan.
- Pemerintah Jepang menjamin pasokan bensin dan pemeriksaan medis bagi pengungsi di mobil, namun tantangan logistik masih membayangi pemulihan.

Gelombang panas ekstrem dan pemadaman listrik pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 di Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, memaksa ribuan warga memilih bertahan di dalam mobil ketimbang di tempat pengungsian resmi. Suhu yang diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius membuat sejumlah shelter tidak berfungsi optimal, bahkan beberapa di antaranya tidak dapat dibuka karena aliran listrik dan air terputus.
Sehari setelah gempa menggunakan skala intensitas seismik maksimum 7—level tertinggi di Jepang—sekitar 10.000 orang mengungsi. Namun, dari lebih 400 tempat penampungan yang disiapkan, banyak yang tidak layak huni. Di Yatsushiro, salah satu wilayah terdampak paling parah, sekitar 60 shelter dibuka, tetapi sebagian distrik masih gelap dan tanpa air bersih. Di satu lokasi, pendingin ruangan bahkan sempat dimatikan karena keterbatasan daya.
Fenomena mengungsi di dalam mobil bukanlah hal baru di Jepang. Pada gempa besar Kumamoto tahun 2016, masalah kesehatan akibat tidur di mobil menjadi sorotan. Kini, risiko yang sama kembali mengemuka. Para ahli memperingatkan bahaya "sindrom kelas ekonomi"—pembekuan darah karena duduk terlalu lama dalam posisi yang sama—yang dapat berakibat fatal jika tidak dicegah.
Tetsuo Ishioka, 79 tahun, memilih tidur di mobilnya. "Sulit tidak bisa meregangkan kaki. Saya tidak yakin apakah saya tidur atau tidak," ujarnya. Sementara itu, seorang wanita berusia 50-an yang enggan disebut namanya mengaku memilih mobil karena tidak ingin orang lain melihatnya minum obat untuk penyakit kronis. Namun, ia khawatir dengan cepatnya bensin habis. Kekhawatiran serupa dirasakan banyak pengungsi lain yang bergantung pada pendingin udara mobil untuk bertahan dari panas.
Perdana Menteri Sanae Takaichi, dalam rapat satuan tugas pemerintah, berjanji memastikan pasokan bensin dan kebutuhan pokok tiba di lokasi terdampak. "Ada banyak pengungsi yang tinggal di mobil, jadi kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan pasokan bensin," kata Takaichi. Ia juga meminta tenaga kesehatan memeriksa kondisi para pengungsi guna mencegah sindrom kelas ekonomi.
Bagi Indonesia, yang juga berada di kawasan cincin api Pasifik, pengalaman Jepang ini menjadi pelajaran berharga. Sistem tanggap darurat yang terkoordinasi, termasuk penyediaan tempat parkir khusus dan jaminan logistik, patut diadopsi. Namun, tantangan seperti suhu ekstrem dan keterbatasan shelter menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga adaptasi terhadap kondisi iklim yang kian tidak menentu. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia sudah memiliki protokol serupa untuk menghadapi skenario terburuk saat gempa besar melanda kota-kota padat penduduk?



