Gempa Kumamoto Lumpuhkan Pabrik Chip, Rantai Pasok Global Terancam
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi magnitudo 7,1 di Kumamoto memaksa pabrik semikonduktor milik Sony, Renesas, dan Tokyo Electron berhenti operasi tanpa jadwal pemulihan.
- Raksasa otomotif Toyota, Honda, dan Nissan terpaksa menghentikan produksi di pabrik sekitar akibat gangguan logistik dan pasokan komponen.
- Jika penghentian berkepanjangan, dampaknya bisa merambat ke industri elektronik dan otomotif global, termasuk rantai pasok Indonesia yang bergantung pada chip Jepang.

Gelombang penghentian operasi pabrik melanda Prefektur Kumamoto, Jepang, setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah barat daya negeri itu pada Selasa (28/7). Sony Semiconductor Manufacturing Corp., anak usaha Sony Group, langsung menghentikan produksi di pabrik Kikuyo tanpa memberikan jadwal pasti kapan operasi akan kembali normal. Langkah serupa diambil oleh raksasa semikonduktor lain seperti Renesas Electronics Corp. dan Tokyo Electron Ltd., yang masing-masing menutup dua pabrik di prefektur yang sama. Mitsubishi Electric Corp. juga menghentikan kegiatan di fasilitas Koshi dan Kikuchi.
Dampak gempa tidak hanya berhenti di sektor chip. Industri otomotif yang menjadi tulang punggung ekonomi Jepang ikut terguncang. Toyota Motor Kyushu Inc. sempat melanjutkan produksi di tiga pabrik di Prefektur Fukuoka setelah pemeriksaan keselamatan, namun kemudian mengumumkan penghentian lagi mulai Rabu malam hingga Jumat akhir pekan ini. Alasannya, masalah logistik dan kondisi pemasok yang belum pulih. Honda Motor Co. menghentikan pabrik sepeda motor dan mesin di Ozu hingga Jumat, sementara Nissan Motor Co. akan menghentikan sebagian operasi di dua pabrik Fukuoka mulai Kamis siang akibat keterlambatan pasokan komponen.
Gangguan tidak hanya melanda pabrik semikonduktor dan otomotif. Pabrik bir Suntory Holdings di Kashima dan pabrik Mitsubishi Chemical di Uto juga masih tutup. Nippon Paper Industries melaporkan kerusakan parah pada cerobong asap di pabrik Yatsushiro dan belum bisa menentukan kapan produksi dapat dilanjutkan. Sektor logistik pun lumpuh: Japan Post menangguhkan layanan di seluruh kantor pos prefektur, Yamato Transport menghentikan penanganan paket, dan Sagawa Express untuk sementara tidak melayani pengiriman di beberapa area.
Konteks Indonesia: Gangguan pasokan chip dari Jepang berpotensi memukul industri elektronik dan otomotif di Tanah Air. Indonesia mengimpor sebagian besar komponen semikonduktor dari Jepang, termasuk untuk perangkat telekomunikasi dan kendaraan bermotor. Jika penghentian produksi berkepanjangan, harga komponen bisa naik dan memperlambat produksi dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dengan memperkuat cadangan komponen atau mencari sumber alternatif dari negara lain.
Ke depan, para analis memperkirakan bahwa rantai pasok global akan kembali teruji. Apakah industri semikonduktor Jepang mampu pulih cepat, atau justru akan memicu krisis chip baru seperti yang terjadi pascapandemi? Pertanyaan ini menjadi krusial bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan komponen dari Negeri Sakura, termasuk Indonesia.



