BYD Catat Rekor Penjualan Juli, Ekspor Jadi Penopang di Tengah Lesunya Pasar Domestik
Baca dalam 60 detik
- Penjualan global BYD naik 21,8% year-on-year menjadi 419.211 unit pada Juli, didorong ekspor yang melonjak 124,3%.
- Ekspor BYD mencapai 179.841 unit, menandakan strategi agresif perusahaan menaklukkan pasar luar negeri di tengah perang harga di China.
- Kinerja ini menjadi sinyal positif bagi industri EV global, sekaligus tantangan bagi pemain lokal seperti Indonesia untuk bersaing.

Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, kembali mencatatkan pertumbuhan penjualan global pada Juli, menandai tiga bulan beruntun tren positif. Di tengah persaingan harga yang ketat di pasar domestik, ekspor menjadi motor utama yang mendorong kinerja perusahaan.
Berdasarkan perhitungan Reuters dari laporan resmi BYD yang dirilis Sabtu (1/8), total penjualan global mencapai 419.211 unit pada Juli, naik 21,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menunjukkan resiliensi BYD di tengah perlambatan ekonomi China dan perang diskon yang dipicu oleh kelebihan kapasitas produksi.
Yang lebih menonjol, pengiriman kendaraan penumpang dan pikap ke luar negeri melonjak 124,3 persen secara year-on-year menjadi 179.841 unit. Artinya, hampir 43 persen dari total penjualan BYD kini berasal dari pasar internasional, sebuah lompatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ketika pasar domestik mendominasi.
Lonjakan ekspor ini tidak lepas dari strategi agresif BYD dalam membangun pabrik di berbagai negara, termasuk Thailand, Brasil, dan Hungaria, serta memperluas jaringan distribusi di kawasan Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin. Langkah ini merupakan respons atas kebijakan tarif impor yang diberlakukan Uni Eropa dan Amerika Serikat terhadap kendaraan listrik buatan China.
Bagi Indonesia, pencapaian BYD ini menjadi tamparan sekaligus pelajaran. Pasar otomotif nasional yang tengah didorong untuk mengadopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif, seperti PPnBM 0 persen, justru diramaikan oleh pemain asing. BYD sendiri telah meresmikan pabriknya di Subang, Jawa Barat, pada awal 2024, dan kini mulai menguasai pangsa pasar EV domestik dengan model seperti Seal dan Atto 3.
Menurut analis industri otomotif, keberhasilan BYD tidak hanya ditopang oleh harga yang kompetitif, tetapi juga integrasi vertikal yang kuatโmulai dari baterai hingga semikonduktor. "Mereka mampu memangkas biaya produksi secara signifikan, sesuatu yang belum bisa ditiru oleh produsen lokal," ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya.
Namun, ada kekhawatiran bahwa dominasi BYD dapat menggerus industri komponen dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu memastikan bahwa investasi asing ini memberikan dampak ganda, seperti transfer teknologi dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Jika tidak, Indonesia hanya akan menjadi pasar penjualan, bukan basis produksi yang mandiri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BYD mampu mempertahankan laju pertumbuhan ini di tengah potensi normalisasi permintaan global dan meningkatnya proteksionisme perdagangan. Dengan rencana ekspansi pabrik di Eropa dan Amerika, BYD tampaknya siap menghadapi tantangan tersebut. Namun, bagi kompetitor seperti Tesla dan pemain lokal, tekanan untuk berinovasi dan menekan biaya akan semakin terasa.



