Gempa Kumamoto: Ancaman Ganda di Musim Panas, Heatstroke Mengintai Pengungsi
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7 SR di Kumamoto, Jepang, memaksa ribuan orang mengungsi di tengah suhu ekstrem di atas 35 derajat Celcius.
- Dokter spesialis heatstroke memperingatkan bahwa risiko kematian akibat sengatan panas di tempat penampungan sama besarnya dengan gempa itu sendiri.
- Pengalaman gempa Kumamoto 2016 menunjukkan bahaya 'economy class syndrome' akibat tidur di mobil, dengan 54 orang dirawat di rumah sakit.

Gempa bumi berkekuatan 7 pada skala intensitas seismik maksimum yang mengguncang Kota Uki dan Hikawa di Prefektur Kumamoto, Jepang, pada 28 Juli lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan ancaman mematikan kedua: sengatan panas atau heatstroke. Di tengah musim panas yang mencapai suhu 35 derajat Celcius, para pengungsi di tempat penampungan sementara menghadapi risiko kesehatan yang tidak kalah genting.
Menurut perkiraan Badan Meteorologi Jepang, suhu di Kumamoto diperkirakan mencapai 34 derajat Celcius pada 29 Juli dan terus meningkat hingga di atas 35 derajat pada hari-hari berikutnya. Kombinasi antara lingkungan asing di tempat pengungsian, pekerjaan pembersihan pascagempa, dan suhu ekstrem menciptakan kondisi yang sempurna untuk serangan heatstroke. Dr. Tsuyoshi Fujinaga, wakil direktur Rumah Sakit Saitama Jikei yang spesialis menangani heatstroke, menegaskan bahwa tindakan pencegahan harus dilakukan segera setelah bencana. "Gedung olahraga, mobil, dan area tunggu luar ruangan cenderung menjebak panas," ujarnya.
Fujinaga merekomendasikan langkah-langkah konkret seperti mengukur suhu dan kelembaban secara rutin di tempat penampungan, menyediakan area pendingin dengan AC portabel atau kipas besar, serta memastikan ventilasi dan sirkulasi udara. Jika suhu dalam ruangan tetap tinggi, evakuasi ke fasilitas alternatif yang dilengkapi AC harus dipertimbangkan, bukan hanya mengandalkan kipas angin. Selain itu, pengingat hidrasi secara teratur sangat penting, terutama karena banyak pengungsi membatasi minum karena khawatir menggunakan toilet. Menyediakan toilet yang higienis dan mudah diakses menjadi bagian dari strategi pencegahan heatstroke.
Pemantauan individu terhadap lansia, bayi, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis harus dilakukan secara proaktif. "Jangan menunggu mereka melaporkan gejala," tegas Fujinaga. Petugas harus memeriksa warna kulit, pola keringat, dan responsivitas secara berkala. Jika muncul gejala seperti sakit kepala, mual, lesu berat, atau pusing, segera pindahkan ke tempat sejuk dan dinginkan leher, ketiak, dan selangkangan. Jika ada kelainan, segera hubungi layanan darurat.
Bagi yang terpaksa tidur di mobil, risiko deep vein thrombosis atau 'economy class syndrome' mengintai. Pada gempa Kumamoto 2016, banyak pengungsi memilih tidur di mobil karena takut gempa susulan. Akibatnya, setidaknya 54 orang dirawat di rumah sakit karena gejala yang parah, dan sekitar 80% dari mereka adalah pengungsi yang tidur di mobil. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang merekomendasikan peregangan ringan, hidrasi yang cukup, dan memarkir mobil di tempat teduh atau berventilasi baik untuk mengurangi risiko.
Pasien dengan kebutuhan medis kronis, seperti mereka yang menjalani dialisis ginjal, menghadapi tantangan tambahan jika evakuasi berlangsung lama. Kazuhiro Hasegawa, profesor asosiasi di Universitas Tokushima dan spesialis perawatan dialisis, menyarankan pasien untuk menghubungi dokter atau klinik reguler mereka terlebih dahulu. "Perawatan dialisis tergantung pada tingkat kerusakan fasilitas medis, kondisi infrastruktur, dan ketersediaan tenaga medis. Kumamoto memiliki pengalaman dari bencana 10 tahun lalu, dan sistem tanggap darurat mungkin sudah disiapkan. Meski begitu, pasien tetap akan cemas. Membatasi asupan cairan dapat meningkatkan risiko heatstroke, jadi mereka harus berusaha menjaga rutinitas normal sebisa mungkin," ujarnya.
Bagi Indonesia, yang juga rawan gempa dan memiliki musim kemarau dengan suhu tinggi, pelajaran dari Kumamoto sangat relevan. Sistem penanggulangan bencana di Indonesia perlu mengintegrasikan protokol heatstroke ke dalam rencana evakuasi, terutama di daerah padat penduduk seperti Jawa. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah siap menghadapi ancaman ganda gempa dan heatstroke di masa depan?



