Naira Nigeria Tertekan: Volume Transaksi Valas Anjlok 41% dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Naira melemah ke 1.366,7 per dolar AS di pasar resmi, menyusutkan keuntungan pekan lalu.
- Volume transaksi antar bank NFEM merosot 41% menjadi hanya 61 juta dolar, menandakan likuiditas ketat.
- Bank sentral Nigeria diperkirakan akan meningkatkan intervensi untuk menahan tekanan lebih lanjut.

Naira Nigeria kembali terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat di pasar valuta asing resmi, setelah volume transaksi antar bank ambles lebih dari 40 persen dalam sehari. Data terbaru Bank Sentral Nigeria (CBN) menunjukkan mata uang lokal ditutup di level 1.366,714 per dolar AS pada Rabu (12/3), melemah tipis dibandingkan posisi sebelumnya 1.365,5303.
Penurunan ini memangkas sebagian besar penguatan sekitar 11 naira yang berhasil diraih pekan lalu. Sepanjang sesi perdagangan di jendela NFEM (Nigerian Foreign Exchange Market), transaksi terjadi dalam rentang 1.362 hingga 1.368 per dolar, mengindikasikan bahwa kekurangan likuiditas masih berlanjut hingga pertengahan pekan.
Volume transaksi antar bank NFEM tercatat hanya 61,034 juta dolar, anjlok 41 persen dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 102,954 juta dolar. Jumlah kesepakatan juga berkurang dari 121 menjadi 86 transaksi. Kondisi ini mempertegas tekanan likuiditas yang dihadapi pasar valas Nigeria, terutama di tengah melambatnya aliran masuk dana dari investor portofolio asing, eksportir, dan korporasi non-bank.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik baru di Timur Tengah mendorong harga minyak naik untuk pertama kalinya dalam empat sesi terakhir. Kenaikan ini memutus tren penurunan imbal hasil obligasi Eropa dan AS selama tiga hari berturut-turut. Dolar AS sendiri masih bergerak mixed terhadap mata uang utama G10. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5โ3,75 persen, sejalan dengan kebijakan The Fed yang terus menjaga cadangan likuiditas perbankan. Menurut sebagian besar pengamat, kenaikan suku bunga tahun ini masih mungkin terjadi, mengingat setengah dari proyeksi โdot plotโ terakhir mengindikasikan adanya kenaikan.
Bagi Nigeria, tekanan terhadap naira menjadi ujian bagi kredibilitas kebijakan moneter CBN. Dengan minimnya pasokan valas dari sektor swasta, bank sentral kemungkinan akan memperbesar intervensi langsung di pasar untuk menjaga stabilitas. Namun, langkah ini berisiko menguras cadangan devisa jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan ekspor, terutama dari sektor minyak yang masih menjadi tulang punggung perekonomian.
Ke depan, pergerakan naira akan sangat tergantung pada dua faktor: kelanjutan aliran modal asing dan arah kebijakan suku bunga global. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga tahun ini, tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti naira bisa semakin besar. Pertanyaannya, seberapa jauh CBN bersedia mengorbankan cadangan untuk mempertahankan nilai tukar?



