F1 Catat Rekor Penonton, Bos Balap Puji Pembalap Muda Italia
Baca dalam 60 detik
- Formula One mencatat seluruh 11 seri musim ini sold out, dengan total penonton 3,7 juta orang, naik 300 ribu dari musim lalu.
- Pembalap Mercedes Kimi Antonelli, 19 tahun, disebut sebagai aset besar F1 berkat kemampuannya menarik penggemar baru, terutama dari Italia.
- Pasar Asia dan Amerika Latin menunjukkan pertumbuhan signifikan, sementara basis penggemar wanita mencapai 42% dan 43% penggemar berusia di bawah 35 tahun.

Formula One mencatat pencapaian luar biasa pada paruh pertama musim 2025: seluruh 11 seri balapan terjual habis, enam sirkuit memecahkan rekor kehadiran, dan jumlah penonton global melonjak. Bos F1 Stefano Domenicali menyebut fenomena ini tak lepas dari kehadiran pembalap muda Italia, Kimi Antonelli, yang dinilai membawa dimensi baru bagi olahraga jet darat tersebut.
Dalam laporan tengah musim yang dirilis Rabu (29/7), Liberty Media selaku pemilik F1 mengungkapkan bahwa total 3,7 juta orang menghadiri akhir pekan balapan—meningkat 300.000 dari angka 3,4 juta pada periode yang sama musim lalu. Sirkuit Silverstone, Inggris, menjadi yang terpadat dengan 564.000 penonton selama tiga hari, memecahkan rekor sebelumnya. Jepang mencatat kenaikan 18% dan Inggris 13% dalam hal kehadiran penonton.
Domenicali, yang juga orang Italia, tak ragu memuji Antonelli yang baru berusia 19 tahun. “Dia segar, masih sangat baru, dan terbuka terhadap apa pun yang terjadi padanya. Dia telah membawa banyak penggemar baru karena cara interaksinya yang fantastis,” ujarnya. Antonelli, yang memimpin klasemen pembalap bersama Mercedes, telah memenangi enam dari sebelas balapan musim ini. Kehadirannya ikut mendongkrak rating televisi di Italia hingga 27% dibanding musim lalu, terutama karena persaingan ketat dengan Ferrari yang musim ini kembali berjaya berkat Lewis Hamilton dan Charles Leclerc.
Pasar nontradisional juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Di Brasil, jumlah pemirsa televisi pada akhir pekan balapan melonjak hingga lima kali lipat dibanding tahun lalu, dengan rekor 18 juta orang menyaksikan Grand Prix Inggris melalui TV Globo dan SportTV3. Sementara itu, Grand Prix Monako yang dimenangi Antonelli ditonton hampir 80 juta pemirsa secara global. Angka-angka ini menegaskan bahwa F1 berhasil memperluas basis penggemar ke luar Eropa, termasuk Asia dan Amerika Latin.
Dari sisi demografi, F1 melaporkan bahwa wanita kini mencapai 42% dari total audiens, dan tiga perempat dari penggemar baru adalah wanita. Selain itu, 43% basis penggemar berusia di bawah 35 tahun—indikasi bahwa olahraga ini semakin relevan bagi generasi muda. Media sosial juga menjadi motor penggerak: parade pembalap dengan mobil Lego di Silverstone menghasilkan lebih dari 70 juta tayangan di berbagai platform.
Meski angka kepuasan penggemar secara umum meningkat—66% menilai balapan baik atau sangat baik, naik dari 60% musim lalu—Grand Prix Inggris justru mendapat rating lebih rendah: 69% dibanding 89% pada 2025. Balapan tersebut berakhir kontroversial dengan kemunculan safety car dan kemenangan Leclerc setelah Antonelli start dari posisi terdepan. Namun, secara keseluruhan, F1 optimistis tren positif akan berlanjut, terutama dengan balapan berikutnya di Zandvoort, Belanda, pada 23 Agustus.
Bagi Indonesia, pertumbuhan F1 di Asia membuka peluang besar. Dengan meningkatnya minat di Jepang dan potensi pasar di Asia Tenggara, bukan tidak mungkin Indonesia suatu hari menjadi tuan rumah balapan F1. Saat ini, sirkuit Mandalika di Lombok telah menjadi tuan rumah MotoGP, dan infrastruktur serupa bisa dikembangkan untuk F1. Namun, tantangan biaya dan regulasi masih menjadi hambatan utama. Pertanyaannya, akankah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk ikut meramaikan panggung balap jet darat?



