F1 Siapkan Aturan Mesin Baru 2030: Lebih Sederhana, Ramah Lingkungan, dan Bisa Dibalap Kencang
Baca dalam 60 detik
- CEO F1 Stefano Domenicali menargetkan paket regulasi mesin periode 2030-2031 rampung pada akhir tahun ini, dengan fokus pada penyederhanaan dan penggunaan bahan bakar berkelanjutan.
- FIA mendorong adopsi mesin V8 berbahan bakar sintetis sebagai alternatif dari turbo hybrid V6 saat ini, yang menuai kritik dari pembalap karena terlalu kompleks dan membatasi akselerasi.
- Kesepakatan awal menunjukkan pergeseran keseimbangan daya dari listrik ke mesin pembakaran internal pada 2027-2028, menjawab keluhan pembalap yang ingin 'gas pol' tanpa khawatir manajemen energi.

Formula One (F1) berencana menuntaskan rancangan regulasi mesin untuk era 2030 atau 2031 sebelum tahun ini berakhir. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kritik pembalap atas unit daya generasi terbaru yang dinilai terlalu rumit dan mengurangi sensasi balapan.
Stefano Domenicali, CEO F1, mengungkapkan bahwa target utama aturan mendatang adalah menyederhanakan teknologi mesin, mengurangi bobot mobil, serta mempertahankan penggunaan bahan bakar berkelanjutan dengan tetap mempertahankan elemen elektrifikasi. "Kami ingin pembalap bisa kembali mendorong mobil hingga batas maksimal," ujarnya kepada awak media di London, Rabu (29/7).
Langkah ini tidak lepas dari tekanan Federasi Otomotif Internasional (FIA) yang menginginkan perubahan radikal. Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem mendorong adopsi mesin V8 berbahan bakar sintetis mulai 2031, atau lebih cepat jika ada konsensus. Opsi itu berarti meninggalkan mesin turbo hybrid V6 yang saat ini digunakan, yang dinilai terlalu kompleks dan mahal.
Domenicali mengakui ada dua jalur yang bisa ditempuh: menunggu hingga akhir siklus kontrak saat ini pada 2031 dengan risiko FIA memaksakan aturan yang sama sekali berbeda, atau mencapai kesepakatan lebih awal. "Saya yakin dalam waktu dekat kami akan memiliki paket yang tepat untuk masa depan," tambahnya.
Perubahan ini menjadi krusial karena para pembalap kerap mengeluhkan unit daya 2026 yang mengharuskan mereka mengatur energi sepanjang lap, sehingga tidak bisa melaju full throttle seperti era sebelumnya. Manajemen energi yang ketat dinilai mengurangi aspek kompetitif dan spektakuler dari balapan. FIA telah menyetujui paket perubahan pada Juni lalu untuk mengurangi porsi tenaga listrik pada 2027-2028, mengembalikan dominasi mesin pembakaran internal menjadi 60 persen.
Bagi Indonesia, perkembangan regulasi mesin F1 ini relevan mengingat semakin dekatnya hubungan industri otomotif nasional dengan teknologi balap. Produsen seperti Pertamina dan beberapa tim pengembangan kendaraan listrik dalam negeri dapat memanfaatkan transfer teknologi dari F1, khususnya dalam hal bahan bakar sintetis dan sistem hybrid. Selain itu, minat penonton F1 di Indonesia yang terus tumbuh โ terbukti dari tiket grand prix yang selalu habis dan peningkatan pemirsa televisi โ menjadikan arah regulasi ini penting untuk diikuti.
Dengan lima pabrikan mesin yang sudah berkomitmen dan satu lagi dalam proses, Domenicali optimistis negosiasi akan berjalan lancar. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap pihak memiliki kepentingan berbeda. Pertanyaan besarnya adalah: akankah FIA dan F1 mampu mencapai konsensus sebelum batas waktu, atau justru memicu perpecahan seperti yang pernah terjadi pada era V8 sebelumnya?



