Ukraine Ajukan Banding ke CAS Lawan Keputusan IOC Pulihkan Komite Olimpiade Rusia
Baca dalam 60 detik
- Komite Olimpiade Nasional Ukraina resmi mengajukan banding ke CAS atas pemulihan sementara ROC oleh IOC.
- Ukraina menilai keputusan IOC diambil tanpa verifikasi tuntas atas pelanggaran integritas wilayah yang dilakukan ROC.
- Jika banding dikabulkan, proses reintegrasi Rusia ke Olimpiade Los Angeles 2028 bisa terhambat.

Komite Olimpiade Nasional (NOC) Ukraina resmi melayangkan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) terhadap keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang mencabut sementara sanksi terhadap Komite Olimpiade Rusia (ROC). Langkah ini menjadi batu sandungan baru dalam upaya IOC mengembalikan Rusia ke panggung olahraga global.
IOC pada 7 Juli lalu memutuskan untuk mencabut sementara suspensi ROC yang diberlakukan sejak Oktober 2023. Saat itu, ROC dianggap melanggar Piagam Olimpiade karena mengakui dewan olimpiade regional di empat wilayah Ukraina yang diduduki Rusia—Luhansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia—setelah invasi Rusia pada Februari 2022. Keputusan pemulihan ini dinilai sebagai langkah awal menuju reintegrasi penuh Rusia pada Olimpiade Los Angeles 2028.
Dalam pernyataan resminya, NOC Ukraina menegaskan bahwa keputusan IOC bersifat prematur dan tidak didasari verifikasi yang memadai. “Posisi kami berpegang pada fakta bahwa pelanggaran yang menyebabkan suspensi ROC belum terselesaikan secara tuntas,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Ukraina juga merujuk pada putusan CAS pada 2024 yang mengukuhkan legalitas suspensi ROC, dengan alasan bahwa pengakuan terhadap organisasi olahraga dari wilayah pendudukan melanggar integritas teritorial NOC Ukraina dan Piagam Olimpiade.
Ukraina menilai bahwa memulihkan hak ROC tanpa penyelesaian pelanggaran yang efektif bertentangan dengan prinsip hukum olahraga internasional dan menciptakan preseden berbahaya bagi Gerakan Olimpiade. “Keputusan ini mengancam integritas kompetisi dan memberikan sinyal bahwa pelanggaran teritorial dapat diabaikan demi kepentingan politik,” tambah pernyataan tersebut.
Di sisi lain, Menteri Olahraga Rusia Mikhail Degtyarev menyambut positif langkah IOC. Ia mengatakan pada 7 Juli bahwa keputusan itu membuka jalan bagi atlet Rusia untuk kembali sepenuhnya ke panggung internasional. Sejak perang dimulai, atlet Rusia dan Belarusia hanya diizinkan tampil sebagai netral di Olimpiade Paris 2024 dan Milan-Cortina 2026, tanpa bendera atau lagu kebangsaan.
Bagi Indonesia, konflik ini relevan mengingat posisi netral yang kerap diambil dalam isu geopolitik olahraga. Sebagai negara yang aktif di Asian Games dan SEA Games, Indonesia perlu mencermati bagaimana preseden hukum ini dapat memengaruhi partisipasi atlet dari negara yang terkena sanksi di masa depan. Keputusan CAS nantinya bisa menjadi acuan bagi federasi olahraga internasional dalam menangani kasus serupa.
Banding Ukraina kini menjadi ujian bagi konsistensi IOC dalam menegakkan Piagam Olimpiade. Apakah CAS akan mempertahankan putusan sebelumnya yang menguatkan suspensi ROC, atau justru membuka jalan bagi rekonsiliasi yang lebih luas? Jawabannya akan menentukan arah politik olahraga global dalam beberapa tahun ke depan.



