Kontroversi 'Klik Jari' Guncang Kriket Inggris: Saltburn Mundur dari Pertandingan
Baca dalam 60 detik
- Klub kriket Saltburn membatalkan pertandingan setelah dituduh melakukan kecurangan dengan mengklik jari saat bola lewat.
- Video viral di media sosial memicu investigasi liga dan perbandingan dengan legenda kriket Australia, Ricky Ponting.
- Insiden ini menyoroti celah dalam aturan dan etika olahraga, relevan bagi pengembangan kriket di Indonesia.

Klub kriket amatir Saltburn harus menyerah pada tekanan publik setelah video yang memperlihatkan seorang pemain diduga melakukan kecurangan dengan mengklik jari saat bola melintas menjadi viral. Akibatnya, pertandingan piala yang dijadwalkan Rabu malam melawan Marton dibatalkan karena klub tidak mampu menurunkan tim.
Kontroversi bermula pada pertandingan Divisi 2 North Yorkshire and South Durham Cricket League, Senin lalu, saat Saltburn mengalahkan Norton. Dalam sebuah momen krusial, pemukul Saltburn, Brian Devine, diduga mengklik jarinya tepat ketika bola melewati bat pemukul Norton, Noman Shabir, dan ditangkap oleh penjaga gawang Josh Bowes. Wasit kemudian mengabulkan permohonan Saltburn dan menyatakan Shabir out. Rekaman kejadian itu diunggah ke platform X dan telah ditonton lebih dari 7,5 juta kali, memicu julukan sarkastis "Clicky Ponting"—merujuk pada legenda Australia Ricky Ponting yang terkenal dengan gerakan tangan khasnya.
Liga segera bergerak cepat. Pada Senin malam, mereka mengumumkan investigasi resmi setelah menerima pengaduan dari Norton. Sebuah pertemuan antara Saltburn, perwakilan liga, dan kuasa hukum digelar Selasa malam, namun hasilnya belum diumumkan. Sementara itu, video-video lain dari pertandingan sebelumnya yang melibatkan Devine juga bermunculan, memperkuat dugaan pola kecurangan.
Keputusan Saltburn untuk mengundurkan diri dari pertandingan piala melawan Marton—sebuah format 100 bola per sisi yang mirip dengan The Hundred—menimbulkan pertanyaan serius. Secara resmi, klub beralasan tidak bisa mengumpulkan pemain karena musim liburan. Namun, pengamat menilai langkah ini lebih merupakan upaya meredam amarah publik dan menghindari boikot lebih lanjut. "Ini jelas bukan sekadar masalah liburan. Mereka sedang dalam mode krisis," ujar seorang analis olahraga yang enggan disebut namanya.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa olahraga yang mengedepankan semangat sportivitas pun tidak kebal dari kontroversi. Federasi Kriket Indonesia (FKI) dapat menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi untuk memperketat aturan dan pengawasan, terutama di era digital di mana setiap gerak-gerik pemain bisa terekam dan viral. Kejadian serupa pernah terjadi di kriket Indonesia? Meski belum ada laporan, potensi penyalahgunaan teknologi dan tekanan sosial media tetap perlu diantisipasi.
Ke depannya, investigasi liga akan menjadi penentu. Jika terbukti bersalah, Saltburn dan Devine bisa menghadapi sanksi berat, mulai dari pengurangan poin hingga larangan bertanding. Namun, yang lebih mendasar adalah bagaimana kriket Inggris—dan dunia—merespons tantangan etika di era digital. Apakah aturan main perlu direvisi untuk mengakomodasi bukti video? Ataukah semangat 'fair play' harus tetap dipegang teguh tanpa perlu campur tangan teknologi berlebihan?



