Gempa 7,1 Guncang Kyushu, Jepang Keluarkan Peringatan Tsunami
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,1 magnitudo melanda Pulau Kyushu, Jepang, pada Selasa (28/7) sore waktu setempat, memicu peringatan tsunami setinggi satu meter.
- Jepang yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik mencatat sekitar 18% gempa bumi dunia, dengan sejarah kelam gempa dan tsunami 2011 yang menewaskan 18.500 jiwa.
- Indonesia sebagai sesama negara rawan gempa perlu menjadikan sistem peringatan dini dan mitigasi bencana Jepang sebagai referensi untuk mengurangi risiko bencana serupa.

Jepang kembali diguncang gempa bumi dahsyat. Gempa berkekuatan 7,1 magnitudo yang berpusat di Pulau Kyushu bagian barat daya pada Selasa (28/7) sore memaksa Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan tsunami. Masyarakat di pesisir diminta waspada terhadap gelombang setinggi hingga satu meter yang diperkirakan tiba sekitar pukul 17.00 waktu setempat.
Gempa yang terjadi pukul 16.27 waktu setempat itu tercatat mencapai level intensitas tertinggi, yaitu level 7 dalam skala Shindo milik Jepang. Skala tersebut mengukur guncangan di permukaan tanah, bukan magnitudo. Stasiun televisi NHK melaporkan bahwa gelombang tsunami setinggi satu meter mungkin sudah terdeteksi di beberapa titik. Meski demikian, belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan berarti dalam beberapa jam pertama.
Jepang merupakan salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia. Terletak di atas empat lempeng tektonik utama di sepanjang tepi barat Cincin Api Pasifik, negeri ini mengalami ratusan gempa setiap tahunnya. Sekitar 18 persen dari seluruh gempa bumi global terjadi di Jepang, menurut data geologi. Meski sebagian besar tergolong ringan, dampaknya sangat bergantung pada kedalaman dan lokasi episenter.
Kejadian ini mengingatkan pada gempa dahsyat 9,0 magnitudo pada 2011 yang memicu tsunami setinggi 40 meter, menewaskan hampir 18.500 orang dan meluluhlantakkan pembangkit nuklir Fukushima. Belum lama ini, pada April tahun yang sama, gempa 7,7 magnitudo di utara Jepang melukai 10 orang dan mengguncang gedung-gedung tinggi di Tokyo, yang kemudian diikuti peringatan khusus akan potensi gempa 8,0 atau lebih besar. Peringatan itu berakhir setelah sepekan.
Bagi Indonesia, berita ini menjadi pengingat akan kerentanan serupa. Indonesia juga berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki sejarah panjang bencana gempa dan tsunami, seperti tsunami Aceh 2004 yang menewaskan lebih dari 220.000 orang. Sistem peringatan dini dan mitigasi bencana Jepang yang canggih layak menjadi bahan pembelajaran. Meski peringatan tsunami kali ini relatif kecil, respons cepat pemerintah Jepang menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan edukasi publik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah gempa ini akan diikuti oleh gempa susulan yang lebih besar atau justru mereda. Sejarah menunjukkan bahwa gempa besar di Jepang seringkali memicu serangkaian gempa lain dalam waktu singkat. Masyarakat di kawasan terdampak dan negara tetangga, termasuk Indonesia, perlu terus memantau perkembangan situasi dari otoritas resmi.



