AS Larang Impor Robot Canggih dan Inverter asal China: Perang Dagang Baru Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Pemerintahan Trump segera memberlakukan larangan impor robot humanoid, quadruped, dan power inverter asal China melalui FCC.
- Langkah ini bertujuan mengamankan rantai pasok kecerdasan buatan AS dan mendorong relokasi industri ke dalam negeri.
- Indonesia yang bergantung pada impor teknologi serupa dari China berpotensi menghadapi kenaikan harga dan keterbatasan pasokan.

Pemerintahan Presiden Donald Trump pada Selasa (28/7) dijadwalkan mengumumkan larangan impor robot humanoid, robot quadruped, dan power inverter asal China, langkah yang disebut sebagai upaya melindungi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) Amerika Serikat dari ancaman keamanan nasional sekaligus memulangkan industri strategis ke dalam negeri.
Aturan baru tersebut akan diumumkan oleh Komisi Komunikasi Federal (FCC) dan mencakup larangan terhadap robot humanoid serta robot berkaki empat yang selama ini banyak dipakai di sektor manufaktur dan logistik. Selain itu, power inverter terhubung โ yang berfungsi menghubungkan sumber energi terbarukan dan baterai ke jaringan listrik serta peralatan pusat data โ juga masuk dalam daftar larangan. Langkah ini menandai eskalasi kebijakan proteksionisme AS di bidang teknologi tinggi.
Pejabat senior administrasi Trump yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa presiden telah menegaskan perlunya rantai pasok yang independen dan aman untuk teknologi kritis. โKeamanan ekonomi adalah keamanan nasional,โ ujarnya. Dengan membatasi impor dari China, Washington berharap dapat memutus ketergantungan pada pemasok utama sekaligus memaksa perusahaan global memindahkan pabrik ke Amerika. Langkah ini juga dimaksudkan untuk mencegah potensi gangguan, pencurian data, dan serangan siber yang bisa membahayakan ekosistem AI AS.
Bagi Indonesia, langkah ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Negeri ini tengah gencar mengadopsi robotika di sektor manufaktur dan memperluas proyek energi terbarukan, seperti PLTS dan penyimpanan baterai. Sebagian besar kebutuhan robot dan inverter masih dipasok oleh China. Jika larangan berjalan efektif, pasokan global diprediksi mengetat, harga melonjak, dan Indonesia harus berjuang lebih keras untuk memenuhi target industrialisasi dan transisi energinya.
Duta Besar China untuk Washington belum memberikan tanggapan resmi. Namun analis menilai bahwa kebijakan ini bisa memperburuk hubungan dagang kedua negara. Sejumlah perusahaan teknologi China telah menyatakan akan mencari pasar alternatif, termasuk di Asia Tenggara. Pemerintah Indonesia, menurut pengamat industri, perlu segera menyusun strategi diversifikasi pemasok atau mempercepat produksi dalam negeri untuk mengurangi dampak disruptif.
Kebijakan ini menandai babak baru dalam perang teknologi AS-China yang berimplikasi global. Pertanyaan yang menggantung: sejauh mana Indonesia mampu menyesuaikan diri di tengah tekanan rantai pasok yang semakin terfragmentasi? Atau justru ini momentum untuk memperkuat kemandirian industri nasional?



