Cucu Idi Amin di Ring Glasgow: Misinya Mengubah Noda Kelam Jadi Emas
Baca dalam 60 detik
- Aziz Abdul, cucu mantan diktator Uganda Idi Amin, bertanding di perempat final tinju kelas super berat Commonwealth Games dan berpeluang merebut medali pertama Uganda sejak 1990.
- Abdul menggunakan julukan 'Ringo' dan menyebut kemungkinan menjadi 'King of Scotland' yang baru, mengacu pada obsesi kakeknya terhadap Skotlandia.
- Kemenangan di Glasgow dipandang sebagai peluang bagi Abdul untuk melepaskan diri dari bayang-bayang kelam sejarah keluarganya dan membawa nama baik Uganda.

Di tengah hingar-bingar Commonwealth Games Glasgow, seorang petinju super berat asal Uganda bernama Aziz Abdul menarik perhatian. Bukan semata karena pukulannya yang dijuluki 'Ringo punch', melainkan garis keturunan yang membayangi langkahnya: ia adalah cucu dari Idi Amin, diktator yang namanya identik dengan kekejaman. Rabu ini, Abdul akan naik ring melawan Damar Thomas dari Inggris di perempat final kelas 90+ kg. Jika menang, ia mengamankan setidaknya medali perunggu dan mengakhiri paceklik medali tinju Uganda sejak Auckland 1990.
Idi Amin, yang merebut kekuasaan lewat kudeta 1971, memerintah dengan tangan besi selama delapan tahun. Rezimnya bertanggung jawab atas kematian sekitar setengah juta warga Uganda serta pengusiran etnis Asia dari negara itu. Ironisnya, Amin memiliki obsesi aneh terhadap Skotlandia—ia gemar mengenakan kilt, memainkan bagpipe, dan bahkan memproklamirkan diri sebagai 'King of Scotland' pada 1976. Obsesi ini kemudian diabadikan dalam film pemenang Oscar The Last King of Scotland.
Kini, 49 tahun kemudian, cucunya berjalan di kota yang sama dengan misi berbeda. Aziz Abdul, yang akrab dipanggil Ringo, tidak mau larut dalam euforia masa lalu. Ia lebih suka memikirkan pertarungan yang ada di depan. “Hanya Tuhan yang tahu,” katanya kepada BBC Sport Scotland. “Mungkin aku akan menjadi Raja Skotlandia yang baru. Itu mungkin. Saat tiba, aku memasang bendera, karena aku sangat suka Skotlandia.”
Tekanan yang dihadapi Abdul tidak ringan. Ia sadar nama kakeknya memicu reaksi beragam. "Kadang orang bicara positif tentang dia, tapi yang lain bicara negatif. Itu kenapa aku tidak mau terlalu banyak omong soal dia," ujarnya. Ia menolak menjawab apakah bangga dengan hubungan itu, tapi tegas ingin dikenang sebagai 'Ringo si petinju', bukan semata cucu Idi Amin.
Buat Uganda, prestasi Abdul bisa menjadi angin segar. Negara itu masih bergulat dengan bayang-bayak rezim kelam yang belum usai—hingga kini Amin tidak pernah diadili dan meninggal di Arab Saudi pada 2003. Abdul sendiri menjalani kehidupan biasa di Kampala. Kini ia berambisi menukar rantai emas yang melingkar di lehernya dengan medali emas sungguhan. "Aku ingin melakukan sesuatu untuk negaraku. Besok adalah hari mereka mengenaliku, hari dunia mengenaliku," tegasnya.
Kisah Abdul mengingatkan bahwa olahraga kerap menjadi panggung untuk menulis ulang sejarah. Bukan pertama kali cucu seorang kontroversial membawa obor baru; namun di Glasgow, momentum ini terasa lebih sinematis. Mampukah 'Ringo' menjadi raja baru Skotlandia—bukan dengan tirani, melainkan dengan pukulan dan semangat? Hasil pertarungan nanti akan menjadi jawaban pertama.



