Bilal Fawaz, Juara Tinju yang Terjebak Status Imigrasi: 24 Tahun di Inggris Tanpa Paspor
Baca dalam 60 detik
- Petinju Inggris Bilal Fawaz, 38 tahun, tidak memiliki paspor meski telah tinggal 24 tahun di Inggris, menghalangi karier internasionalnya.
- Promotor Eddie Hearn mengecam pemerintah Inggris yang dinilai lamban memproses kewarganegaraan Fawaz, yang sebelumnya menjadi korban perdagangan manusia.
- Fawaz baru bisa mengajukan kewarganegaraan pada usia 43 tahun, sementara peluang fight bergengsi di luar negeri terus hilang.

Bilal Fawaz, petinju kelas ringan-menengah yang menyandang gelar juara Inggris dan Persemakmuran, harus menjalani kenyataan pahit: meski telah menetap di Inggris selama 24 tahun, ia tak memiliki paspor dan tak bisa bepergian ke luar negeri. Promotor Eddie Hearn menyebut situasi ini sebagai aib bagi pemerintah Inggris.
Fawaz, 38 tahun, dikirim ke Inggris pada usia 14 tahun sebagai korban perdagangan manusia. Ia ditahan dalam kondisi mirip perbudakan modern, dipaksa bekerja, dan dilarang bersekolah. Setelah melarikan diri, ia masuk sistem perawatan anak dan sempat berurusan dengan hukum karena pelanggaran ringan seperti kepemilikan ganja dan vandalisme. Namun, tinju menjadi penyelamatnya. Bergabung dengan All Stars Boxing Club di London barat, ia berhasil menjadi juara amatir Inggris dan mewakili Inggris enam kali, meski tak bisa mengikuti Olimpiade atau menandatangani kontrak profesional karena status imigrasinya.
Pada usia 33 tahun, Fawaz akhirnya mendapat izin kerja dan beralih profesional. Dalam waktu singkat ia merebut gelar Inggris, lalu juara Persemakmuran. Namun, tanpa paspor, ia tak bisa menerima tawaran fight di Arab Saudi, Amerika Serikat, atau negara lain. "Saya seperti dipenjara," kata Fawaz dalam film dokumenter BBC Fighting for Freedom. "Saya sudah berdarah-darah untuk Inggris di ring, tapi mereka tetap tidak menganggap saya warga negara."
Eddie Hearn, promotor Fawaz, tak kuasa menahan kekesalan. "Apa yang menahan proses ini? Ini hal paling konyol yang pernah saya dengar," ujarnya. "Seharusnya mereka malu. Seseorang harus melihat kasus ini dan berkata, 'Apa yang kalian lakukan? Beri dia paspornya.'" Hearn mengaku sudah bisa mendapatkan fight besar di Amerika atau Saudi, tetapi terhalang status Fawaz.
Kantor Dalam Negeri Inggris enggan berkomentar, hanya menyatakan tidak biasa berkomentar untuk kasus individual. Fawaz saat ini berada dalam rute penyelesaian 10 tahun (ten-year route to settlement) yang mengharuskannya tinggal sah selama satu dekade sebelum bisa mengajukan izin tinggal tetap. Ia baru akan memenuhi syarat kewarganegaraan pada usia 43 tahun. Padahal, Inggris memiliki rute lima tahun yang lebih pendek untuk kategori imigrasi tertentu. Tidak jelas mengapa rute 10 tahun diterapkan pada Fawaz.
Kisah Fawaz mengingatkan pada problem statelessness yang juga terjadi di Indonesia, di mana banyak individu kesulitan mendapatkan dokumen kewarganegaraan meski telah lama menetap. Bagi atlet seperti Fawaz, ketiadaan paspor berarti kehilangan kesempatan emas untuk bersaing di level tertinggi. "Saya bisa jadi juara dunia jika mendapat paspor di usia 20-an," sesalnya.
Pertanyaan yang tersisa: akankah pemerintah Inggris mempertimbangkan percepatan proses bagi individu yang telah memberikan kontribusi nyata seperti Fawaz? Atau ia harus menunggu hingga hampir setengah abad untuk mendapatkan pengakuan yang layak?



