Klub Buku Khusus Pria: Ruang Aman Baru Melawan Epidemi Kesepian Maskulin
Baca dalam 60 detik
- Di Singapura, Modern Man's Book Club menarik 15-20 peserta per sesi, didominasi pria, untuk membedah isu maskulinitas dan kesehatan mental.
- Data menunjukkan pria lebih rentan kesepian dan enggan mencari bantuan, menjadikan klub buku sebagai alternatif ruang diskusi yang aman.
- Fenomena ini memantik pertanyaan tentang relevansi pendekatan serupa di Indonesia, di tengah minimnya ruang aman bagi pria untuk berbagi.

Di tengah meningkatnya perhatian pada isu kesehatan mental pria, sebuah klub buku khusus laki-laki di Singapura menjelma menjadi ruang aman bagi mereka untuk berbagi cerita dan merefleksikan diri. Modern Man's Book Club, yang didirikan pada akhir 2025 oleh Isaac Neo dan Zubin Jain, awalnya hanya dihadiri segelintir orang, kini rutin menarik 15 hingga 20 peserta setiap sesi. Fenomena ini muncul sebagai respons atas apa yang banyak disebut sebagai 'epidemi kesepian pria' yang melanda berbagai negara, termasuk Indonesia.
Data dari studi NUS 2020 menunjukkan pria lanjut usia (61-96 tahun) dua kali lebih mungkin mengalami keterasingan sosial dibandingkan wanita. Sementara itu, jajak pendapat IPS 2023 mengungkapkan bahwa kaum muda berusia 21-34 tahun lebih rentan melaporkan tingkat kesepian yang tinggi. Angka bunuh diri pria di Singapura pun konsisten lebih tinggi daripada wanita selama periode 2019-2024, sejalan dengan tren global. Ironisnya, pria justru lebih jarang mencari layanan kesehatan mental, meskipun lebih berisiko mengalami gangguan mental seumur hidup.
Neo, yang juga bekerja sebagai analis risiko geopolitik, menuturkan bahwa klub buku ini lahir dari pengamatannya bahwa klub buku di Singapura didominasi oleh perempuan. โKami melihat ada audiens yang kurang terlayani,โ ujarnya. Diskusi di klub ini tidak hanya membahas buku, tetapi juga isu-isu seperti peran ayah, isolasi sosial, dan budaya incel. Peserta diajak menggunakan karakter dalam buku sebagai cermin untuk mengeksplorasi pemikiran mereka sendiri, sebelum akhirnya terbuka untuk berbagi pengalaman pribadi.
Keberhasilan klub buku ini menegaskan bahwa pria sebenarnya ingin berbicara tentang perasaan mereka, asalkan ada wadah yang tepat. Dalam sesi membahas novel 'Flesh' karya David Szalay, misalnya, diskusi bergulir dari kritik terhadap penggambaran tokoh yang emosionalnya datar hingga perbedaan generasi dalam mengekspresikan emosi. Seorang peserta paruh baya bahkan mengaku bahwa penggambaran tersebut realistis untuk pria seusianya. Hal serupa terjadi saat membahas 'Notes From Underground' karya Dostoevsky; seorang peserta yang terbiasa membaca nonfiksi mengaku tertantang, tetapi justru merasa terbantu untuk merefleksikan hubungan interpersonalnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Singapura. Di berbagai negara, klub buku khusus pria mulai bermunculan sebagai respons terhadap kebutuhan akan ruang diskusi yang aman. Para ahli menilai bahwa klub buku dapat memfasilitasi refleksi diri, yang terbukti berkaitan dengan pengambilan keputusan yang lebih baik, perilaku prososial, dan pengurangan stres. Seperti dikatakan oleh penulis James Baldwin, โHal-hal yang paling menyiksa kita justru menghubungkan kita dengan orang lain.โ
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran berharga. Meski belum ada data komprehensif, isu kesepian pria juga mengemuka di tengah perubahan sosial yang cepat. Minimnya ruang aman bagi pria untuk berbagi kerap membuat mereka memendam masalah, yang berujung pada stres dan depresi. Inisiatif seperti klub buku bisa menjadi model yang relevan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana komunitas literasi mulai tumbuh. Namun, tantangannya adalah mengubah stigma bahwa membaca dan berdiskusi adalah aktivitas feminin.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah klub buku pria akan menjamur di Indonesia, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat menciptakan lebih banyak ruang inklusif bagi pria untuk mengekspresikan kerentanan mereka. Apakah akan lahir inisiatif serupa dari komunitas literasi lokal, atau justru dari platform digital yang lebih mudah diakses? Waktu yang akan menjawab, tetapi yang jelas, kebutuhan akan ruang semacam itu semakin mendesak.



