Meta Dituding Abaikan Riset Dampak Buruk Instagram pada Remaja, Digugat Negara Bagian Tennessee
Baca dalam 60 detik
- Tennessee menggugat Meta karena dianggap mengabaikan penelitian internal yang menunjukkan fitur Instagram seperti notifikasi dan infinite scroll memicu kecanduan serta gangguan mental pada remaja.
- Gugatan ini menuntut Meta membayar denda dan mengubah desain platform, sementara Meta berdalih telah transparan dan terus berupaya memperbaiki fitur keamanan.
- Kasus Tennessee merupakan yang kedua setelah New Mexico memenangkan gugatan serupa, dan bisa menjadi preseden bagi negara bagian lain serta tekanan regulasi global.

Gugatan baru diajukan oleh negara bagian Tennessee terhadap Meta Platforms, induk Instagram, dengan tuduhan bahwa perusahaan sengaja mengabaikan temuan internal tentang bahaya platform tersebut bagi remaja demi mengejar keuntungan. Dalam sidang pembukaan di Pengadilan Nashville, pengacara negara bagian membeberkan bukti bahwa Meta—mulai dari riset produk hingga desain fitur—lebih memprioritaskan pertumbuhan pendapatan iklan ketimbang keselamatan pengguna muda.
Para pengacara Tennessee menyebut, sejak 2017 peneliti Meta telah berkali-kali memperingatkan bahwa fitur seperti pemutaran otomatis (autoplay), notifikasi, dan gulir tak terbatas (infinite scroll) mendorong penggunaan kompulsif. Dampaknya, sebagian remaja mengalami gangguan makan, depresi, hingga perilaku menyakiti diri sendiri. Namun peringatan itu tidak pernah diindahkan, dan Meta tetap membiarkan fitur-fitur tersebut aktif untuk memaksimalkan waktu layar serta jumlah iklan yang ditayangkan.
Dalam persidangan yang disiarkan melalui Courtroom View Network, Tom Cartmell—pengacara negara bagian—memperdengarkan suara notifikasi khas ponsel untuk mengilustrasikan bagaimana hadiah tak terduga memicu pelepasan dopamin, memperkuat kecanduan pada otak remaja. Cartmell juga menunjukkan dokumen internal Meta bertanggal 2017, di mana manajer produk menulis bahwa fitur notifikasi dan gulir tak terbatas “secara inheren bertentangan dengan kesejahteraan” dan merekomendasikan Meta untuk memperingatkan publik. “Peringatan itu tak pernah muncul,” tegas Cartmell.
Di sisi lain, pengacara Meta, Kevin Huff, membela kliennya dengan menyatakan bahwa dokumen tersebut justru membuktikan Meta secara proaktif mencari masalah untuk diperbaiki. Huff menyebut Meta telah mengembangkan alat untuk membatasi penggunaan bermasalah di Instagram, serta memberdayakan guru dan orang tua agar turut serta menjaga keamanan remaja. “Melindungi remaja di dunia maya adalah tanggung jawab bersama. Butuh seluruh desa,” ujarnya, seraya mempertanyakan apakah Meta harus menanggung sendiri problem sosial seperti bunuh diri, eksploitasi anak, dan kecanduan.
Jika sidang berlangsung selama tujuh pekan dan juri memutuskan Meta bersalah, maka kasus akan memasuki fase kedua di hadapan Kanselir Russell Perkins. Hakim tersebut akan memutuskan apakah Meta harus membayar denda serta melakukan perubahan pada Instagram. Hingga kini, hampir seluruh negara bagian di Amerika Serikat telah mengajukan klaim serupa terhadap Meta—lebih dari dua lusin di antaranya digabung dalam litigasi multidistrik di San Francisco, sementara negara bagian lain memilih menggugat secara terpisah. Ribuan gugatan perorangan dan distrik sekolah juga telah dilayangkan.
Konteks Indonesia: Maraknya penggunaan Instagram di kalangan remaja Indonesia—berdasarkan laporan We Are Social, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna Instagram terbanyak di dunia—menimbulkan pertanyaan tentang perlindungan yang memadai. Kasus Tennessee bisa menjadi sinyal bagi regulator di Asia Tenggara untuk meninjau ulang kebijakan perlindungan anak di ranah digital. Meskipun Indonesia belum memiliki gugatan serupa, wacana tentang keamanan platform media sosial bagi anak mulai mengemuka seiring meningkatnya kesadaran publik dan tekanan dari organisasi perlindungan anak.
Sidang Tennessee ini menandai langkah maju dalam gelombang tuntutan terhadap Meta. Dengan hasil di New Mexico yang mengharuskan Meta membayar $375 juta—dan hakim masih mempertimbangkan denda tambahan serta perintah perubahan platform di negara bagian tersebut—kekalahan di Tennessee bisa membuka pintu bagi lebih banyak tuntutan hukum. Pertanyaan besarnya, apakah Meta akan mengubah pendekatan desainnya secara fundamental, atau justru memperkuat argumen bahwa tanggung jawab perlindungan remaja harus dibagi dengan orang tua dan pendidik? Yang jelas, tekanan hukum terhadap raksasa media sosial kian menguat, dan dampaknya bisa melampaui batas negara.



