Fanatics Akuisisi Aset BGC Group, Siap Luncurkan Bursa Prediksi Olahraga Resmi
Baca dalam 60 detik
- Fanatics membeli dua entitas teregulasi CFTC dari BGC Group untuk mendirikan bursa perdagangan kontrak berjangka olahraga.
- Akuisisi ini memungkinkan Fanatics memperluas jangkauan Fanatics Markets yang sudah beroperasi di 23 negara bagian AS.
- Langkah ini memicu perdebatan mengenai status hukum pasar prediksi yang kerap disamakan dengan perjudian ilegal.

Fanatics, perusahaan platform olahraga global, mengumumkan akuisisi dua lembaga keuangan terdaftar di Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dari pialang BGC Group, sebagai fondasi meluncurkan bursa perdagangan pasar prediksi yang sepenuhnya teregulasi.
Dalam pengumuman resmi pada Senin (27/7), Fanatics menyatakan akan membeli Water Street Labs, LLCโsebuah designated contract market (DCM)โdan CX Clearinghouse L.P., sebuah organisasi kliring derivatif. Nilai transaksi tidak diungkapkan. Akuisisi ini memberi Fanatics infrastruktur regulasi yang diperlukan untuk menawarkan kontrak berjangka terkait hasil pertandingan olahraga, statistik pemain, dan kejuaraan turnamen.
Fanatics sejatinya sudah memiliki lengan bisnis pasar prediksi, Fanatics Markets, yang diluncurkan pada 2025. Platform itu saat ini dapat diakses di 23 negara bagian AS, termasuk California, Texas, dan Florida. Dengan kepemilikan DCM dan lembaga kliring sendiri, Fanatics tidak lagi bergantung pada pihak ketiga untuk memproses dan menyelesaikan perdagangan, sehingga dapat mempercepat inovasi produk dan memperluas jangkauan geografis.
Namun, langkah ini tidak lepas dari kontroversi. Pasar prediksi olahraga kerap berbenturan dengan regulator negara bagian yang menganggapnya sebagai perjudian terselubung. Startup seperti Kalshi, misalnya, telah terlibat sengketa hukum dengan otoritas perjudian di beberapa negara bagian. Kritikus berargumen bahwa kontrak semacam itu mendorong aktivitas spekulatif yang merugikan dan tidak jauh berbeda dengan taruhan ilegal.
CEO Fanatics Betting and Gaming, Matt King, menyatakan bahwa kombinasi antara infrastruktur institusional BGC dan pemahaman mendalam Fanatics terhadap penggemar olahraga menciptakan peluang unik untuk mempercepat pertumbuhan pasar prediksi. "Kami ingin menghadirkan pengalaman kelas terbaik bagi peserta ritel maupun institusional," ujarnya dalam siaran pers.
Bagi pasar Indonesia, model bisnis ini menjadi pengingat bahwa inovasi keuangan di sektor olahraga terus berkembang di negara-negara dengan regulasi longgar. Di Indonesia, segala bentuk perjudian, termasuk prediksi hasil pertandingan dengan imbalan uang, dilarang keras. Namun, perkembangan di AS bisa menjadi bahan kajian bagi regulator dan pelaku industri soal batas antara derivatif keuangan dan perjudian. Otoritas seperti Bappebti atau OJK mungkin perlu mengantisipasi kemunculan produk serupa di masa depan, terutama jika platform asing mulai menjangkau konsumen Indonesia secara daring.
Ke depan, Fanatics diperkirakan akan mengajukan izin tambahan ke negara bagian lain dan meluncurkan kontrak prediksi yang lebih beragam. Pertanyaannya, akankah model ini mendapat perlawanan lebih besar dari regulator perjudian, atau justru menjadi cetak biru bagi platform lain yang ingin masuk ke ranah serupa?



