Gelombang IPO AI China: Antusiasme Investor Ritel vs Fundamental Bisnis yang Belum Kokoh
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan AI China terus melantai di bursa Shanghai dan Hong Kong meski mayoritas masih merugi, didorong kebutuhan modal dan valuasi tinggi.
- Fenomena oversubscription hingga ribuan kali lipat pada IPO sektor AI memicu kekhawatiran akan terbentuknya gelembung pasar.
- Regulator bursa Shanghai melonggarkan aturan pencatatan bagi perusahaan AI yang belum untung, membuka jalan bagi lebih banyak IPO.

Antusiasme investor ritel terhadap saham-saham kecerdasan buatan (AI) di China mencapai titik baru. Setiap akhir pekan, ratusan orang berkumpul di Jalan Guangdong, Shanghai, dalam forum saham informal yang telah berlangsung tiga dekade. Kini, topik utama mereka bukan lagi properti atau manufaktur, melainkan AI—sektor yang diyakini akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi berikutnya meskipun banyak perusahaannya belum mencetak laba.
Fenomena ini bukan tanpa risiko. Seorang peserta tetap forum tersebut memperingatkan bahwa euforia bisa berujung kerugian. "Tidak ada pendapatan nyata yang mendukung semua kegembiraan ini. Tanpa laba solid, jika Anda membeli di puncak pasar sebelum harga jatuh, Anda bisa kehilangan uang," ujarnya. Namun, investor lain lebih optimistis, merujuk pada dukungan penuh pemerintah China terhadap pengembangan AI. "Perdana Menteri sendiri telah berbicara tentang mendorong investasi asing. Para pendukung perusahaan AI optimistis, mengapa saya tidak boleh?" katanya.
Gelombang IPO perusahaan AI China dimulai setelah beberapa tahun lesu di pasar modal. Pada 2024, MetaX Integrated Circuits dan Moore Threads mencatatkan oversubscription hingga 3.000 kali lipat pada porsi ritel. Pekan lalu, ChangXin Memory Technologies (CXMT) melantai di Shanghai dengan lonjakan harga 466% pada hari pertama, menjadikannya perusahaan tercatat paling bernilai di daratan China. Kesuksesan ini mendorong lebih banyak perusahaan AI untuk mengikuti jejak serupa.
Di antara enam startup AI besar China yang dijuluki "AI tigers", dua di antaranya—Zhipu AI dan MiniMax Group—telah mengumumkan rencana pencatatan sekunder di Shanghai STAR Market. Zhipu AI, yang baru melantai di Hong Kong pada Februari 2025, berencana mengumpulkan dana segar US$2,2 miliar. Sementara itu, Moonshot AI, pengembang model Kimi K3 yang menghebohkan industri, dikabarkan sedang menjajaki IPO di Hong Kong. Langkah ini diambil meskipun sebagian besar perusahaan tersebut masih merugi.
Joseph Chan, asisten direktur pusat inovasi dan kewirausahaan Universitas Hong Kong, menjelaskan bahwa IPO menjadi kebutuhan mendesak. "Perusahaan membutuhkan lebih banyak modal karena lingkungan yang sangat kompetitif. Mereka harus menggerakkan proyek dengan kecepatan yang jauh lebih cepat," katanya. Selain itu, pencatatan saham memungkinkan karyawan memonetisasi opsi saham lebih awal, sehingga membantu menarik talenta terbaik.
Regulator pun turut mendukung. Pada Juni lalu, Bursa Efek Shanghai mengklarifikasi aturan pencatatan bagi perusahaan AI large-model, memungkinkan mereka menggunakan kerangka yang dirancang untuk perusahaan teknologi strategis yang belum untung. Langkah ini membuka jalan bagi lebih banyak IPO di masa depan.
Namun, gelombang IPO ini menimbulkan pertanyaan: apakah antusiasme investor sudah terlepas dari fundamental? Marco Sun, analis pasar keuangan utama di MUFG (China), menilai oversubscription hanya terjadi pada segelintir emiten. "Jika ada gelembung, mungkin itu baru akan terjadi nanti. Saat ini, gelembung masih mengembang, belum pecah. Aturan dan ukuran dompet investor masih harus diuji," ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya fundamental bisnis di tengah hiruk-pikuk sektor teknologi. Saat startup AI di Indonesia mulai melirik pasar modal, pelajaran dari China menunjukkan bahwa valuasi tinggi tanpa laba bisa menjadi pedang bermata dua. Regulator dan investor perlu mencermati apakah pertumbuhan pendapatan sebanding dengan ekspektasi pasar, atau sekadar euforia sesaat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah perusahaan AI China mampu membuktikan profitabilitasnya sebelum gelembung benar-benar terbentuk? Ataukah investor ritel akan kembali menjadi korban dari siklus pasar yang tak kenal ampun?



