Meta Raup Pendapatan Lebih Tinggi, Laba Justru Tergerus: Biaya AI dan Gugatan Hukum Jadi Beban
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan Meta naik 28% menjadi 60,8 miliar dolar AS pada kuartal II-2026, melampaui estimasi pasar, namun laba per saham anjlok 31,5% akibat lonjakan belanja infrastruktur AI dan biaya hukum.
- Margin operasi Meta menyusut drastis dari 43% menjadi 31% karena beban operasional membengkak 55% year-on-year, termasuk biaya restrukturisasi dan denda litigasi keamanan anak.
- Manajemen memproyeksikan pendapatan kuartal III-2026 di bawah ekspektasi analis, sementara belanja modal untuk AI diprediksi mencapai 145 miliar dolar AS tahun ini, memicu kekhawatiran investor.

Laba Meta Platforms pada kuartal II-2026 justru terkoreksi di tengah pendapatan yang melampaui target, menandai tekanan keuangan yang semakin nyata akibat ambisi besar perusahaan di bidang kecerdasan buatan (AI) serta beban gugatan hukum yang menggunung. Pendapatan bersih Meta naik 28% year-on-year menjadi 60,8 miliar dolar AS, sedikit di atas estimasi Bloomberg sebesar 60,2 miliar dolar AS. Namun, laba per saham (EPS) anjlok 31,5% menjadi 6,18 dolar AS, jauh dari perkiraan analis yang mencapai 8,58 dolar AS.
Kinerja keuangan Meta pada kuartal kedua tahun fiskal 2026 memperlihatkan kontradiksi yang mencolok. Di satu sisi, lini bisnis utama—Family of Apps—masih tumbuh 28% berkat peningkatan volume iklan sebesar 14% dan kenaikan harga rata-rata iklan 12%. Pendapatan dari Reality Labs, divisi realitas virtual dan augmented, juga naik 16,5%. Namun, di sisi lain, margin operasi perusahaan menyusut drastis dari 43% pada periode yang sama tahun lalu menjadi hanya 31%. Biaya operasional melonjak 55% menjadi 42 miliar dolar AS, dipicu oleh belanja besar-besaran untuk infrastruktur AI dan biaya hukum yang membengkak.
Analis dari First National Bank, melalui divisi stockbroking-nya, menilai bahwa Meta mencatatkan kinerja campuran. Pendapatan yang solid didorong oleh permintaan iklan yang kuat, monetisasi Reels yang terus meningkat, serta rekomendasi iklan berbasis AI yang mendorong pertumbuhan volume dan harga. Namun, tekanan pada laba berasal dari beban non-operasional yang signifikan: 2,4 miliar dolar AS untuk penyelesaian litigasi terkait keamanan anak dan 1,18 miliar dolar AS untuk biaya pesangon akibat perampingan karyawan. Kedua pos ini menjadi pemicu utama kontraksi margin dan penurunan profitabilitas.
Arus kas operasional Meta masih solid, naik dari 25,6 miliar dolar AS menjadi 31,9 miliar dolar AS, berkat pergerakan modal kerja yang menguntungkan. Namun, arus kas bebas ambruk 90,8% menjadi hanya 784 juta dolar AS, akibat lonjakan belanja modal untuk infrastruktur AI generatif. Perusahaan juga menghentikan program pembelian kembali saham (buyback) pada kuartal ini—berbeda dengan 10,2 miliar dolar AS yang dihabiskan pada Q2-2025—dan mengalokasikan dana untuk pembayaran utang, dividen sebesar 1,35 miliar dolar AS, serta penambahan kapasitas pusat data.
Prospek ke depan juga belum sepenuhnya menggembirakan. Manajemen Meta memperkirakan pendapatan kuartal III-2026 berkisar antara 61 miliar hingga 64 miliar dolar AS, di bawah konsensus Bloomberg yang sebesar 63,19 miliar dolar AS. Untuk tahun fiskal 2026 penuh, perusahaan merevisi naik panduan beban menjadi 165-169 miliar dolar AS dan belanja modal menjadi 130-145 miliar dolar AS. Angka ini mencerminkan komitmen Meta untuk terus berinvestasi di AI meskipun tekanan biaya masih tinggi.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, kondisi Meta menjadi sinyal penting. Sebagai salah satu platform digital terbesar yang digunakan oleh jutaan pengguna dan pengiklan di Tanah Air, setiap perubahan strategi Meta—termasuk efisiensi biaya dan fokus pada AI—berpotensi memengaruhi harga iklan digital, kebijakan moderasi konten, serta persaingan dengan platform lokal. Selain itu, lonjakan belanja AI global juga berdampak pada rantai pasok semikonduktor dan pusat data yang melibatkan mitra di Asia Tenggara.
Dengan valuasi saham Meta yang saat ini berada pada price-to-earnings forward 14,6 kali—sedikit di bawah rata-rata historis jangka panjang—investor masih menimbang antara potensi pertumbuhan jangka panjang dari AI dan risiko jangka pendek dari beban hukum serta belanja modal yang tinggi. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Meta mampu mengubah investasi AI menjadi aliran pendapatan baru yang signifikan sebelum margin terus tergerus?



