Transfer Arda Guler ke Liverpool Mengancam Posisi Florian Wirtz
Baca dalam 60 detik
- Liverpool mengincar Arda Guler seharga £100 juta jika gagal mendapatkan Bradley Barcola dari PSG.
- Florian Wirtz, yang direkrut dengan harga mahal pada 2025, dianggap belum memenuhi ekspektasi dan bisa terpinggirkan.
- Pelatih Andoni Iraola diyakini akan memaksimalkan potensi Wirtz, namun kehadiran Guler memunculkan dilema taktis.

Langit Anfield tengah diliputi spekulasi: Liverpool menyiapkan dana besar untuk merekrut bintang muda Real Madrid, Arda Guler, dalam langkah yang bisa mengubah peta lini tengah The Reds musim depan. Situasi ini menjadi ancaman serius bagi Florian Wirtz, playmaker asal Jerman yang belum juga menunjukkan konsistensi sejak pindah dari Bayer Leverkusen.
Langkah Liverpool memantau Guler muncul setelah negosiasi dengan Paris Saint-Germain untuk Bradley Barcola menemui jalan buntu. PSG membanderol winger Prancis itu dengan harga £145 juta dan enggan menurunkan angka tersebut. Meski Barcola disebut-sebut sebagai salah satu winger kiri terbaik dunia, kegagalan transfer memaksa klub mencari alternatif. Nama Arda Guler, yang dibanderol £100 juta, masuk dalam daftar prioritas.
Namun, perbedaan profil antara Guler dan Barcola menimbulkan pertanyaan baru. Barcola adalah winger murni, sementara Guler lebih sering beroperasi sebagai gelandang serang atau sayap kanan. Di titik inilah posisi Wirtz, yang direkrut dari Leverkusen pada Juni 2025 dengan label bakat prodigius, justru terancam. Sejauh ini, Wirtz belum mampu menjadi motor permainan seperti yang diharapkan. Meski statistik dasarnya masih impresif—ia masuk dalam 10% teratas rekan setimnya di Premier League untuk sentuhan bola, peluang tercipta, dan umpan sukses—pengaruhnya di lapangan belum optimal.
Dalam skema pelatih baru Andoni Iraola, Wirtz diyakini akan mendapat kesempatan kedua. Namun, jika performanya tak kunjung membaik, kehadiran Guler bisa menjadi pisau bermata dua. Guler, yang baru berusia 21 tahun, memiliki kemampuan dribel dan tendangan jarak jauh yang mematikan. Mantan pemain Real Madrid, Mesut Ozil, bahkan menyebutnya sebagai talenta kelas dunia. Lebih dari itu, Guler unggul dalam duel fisik—aspek yang krusial untuk bertahan di Premier League.
Konsekuensinya, Iraola dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan Wirtz yang belum terbukti, atau memberikan tempat inti kepada Guler yang lebih siap. Keduanya memiliki profil serupa sebagai gelandang serang kreatif, sehingga sulit dimainkan bersamaan. Sementara itu, opsi Harvey Elliott yang kembali dari masa pinjaman di Aston Villa dinilai belum cukup untuk menjadi solusi jangka panjang.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika ini menjadi cermin betapa ketatnya persaingan di klub top Eropa. Pemain muda berbakat seperti Wirtz bisa dengan cepat tersingkir jika tak mampu beradaptasi. Liverpool sendiri tengah dalam masa transisi, dan keputusan transfer berikutnya akan menentukan arah klub dalam beberapa musim ke depan.
Apakah Iraola mampu memaksimalkan potensi Wirtz, atau justru beralih ke Guler yang lebih siap tempur? Jawabannya akan terlihat dalam bursa transfer musim panas ini.



