Kriket Kembali ke Olimpiade: Senjata IOC untuk Menaklukkan Pasar India
Baca dalam 60 detik
- Kriket akan dipertandingkan di Olimpiade Los Angeles 2028 setelah absen selama 128 tahun, menjadi pintu masuk IOC ke basis penggemar lebih dari 2 miliar orang di India.
- Lonjakan nilai siaran hak Olimpiade di anak benua India diproyeksikan berlipat ganda, dipicu oleh antusiasme pasar terhadap tambahan cabang olahraga ini.
- Dengan 50% penggemar kriket berusia di bawah 35 tahun, IOC optimis meraih 'dividen demografis' dan memperkuat relevansi Olimpiade di kalangan generasi muda global.

Ketika kriket kembali ke panggung Olimpiade di Los Angeles pada 2028, International Olympic Committee (IOC) tidak sekadar menambah satu cabang olahraga. Di balik keputusan itu, tersembunyi strategi besar untuk membuka gerbang komersial India—negara dengan basis penggemar kriket terbesar di dunia dan pasar yang diyakini akan menjadi penopang utama masa depan Olimpiade.
Kriket, yang terakhir tampil di Olimpiade pada 1900, menawarkan sesuatu yang belum pernah diberikan oleh cabang olahraga lain: akses langsung ke lebih dari 2 miliar penggemar dan daya beli konsumen India yang kian melonjak. Direktur Olahraga IOC Pierre Ducrey menyebut kriket sebagai “jembatan” untuk menjangkau penonton yang selama ini kurang tersentuh Olimpiade, terutama di negara-negara Asia Selatan.
“Kriket akan membawa pemirsa yang mungkin tidak secara rutin menonton Olimpiade,” ujar Ducrey. “Ini adalah kompromi saling menguntungkan: kami memberi mereka lebih banyak peluang, dan mereka memperkuat daya tarik kami di pasar yang sangat menggemari kriket.”
Langkah ini langsung memicu lonjakan minat terhadap hak siar Olimpiade 2028 di kawasan anak benua India. Manajer Direktur Layanan Televisi dan Pemasaran IOC Anne-Sophie Voumard mengungkapkan bahwa nilai kontrak hak siar untuk India diperkirakan “berlipat ganda” dibandingkan kontrak Paris 2024 yang bernilai sekitar 30 juta dolar AS. Juru bicara IOC menegaskan telah terjadi “minat kuat dari pasar” yang mencerminkan momentum positif LA28 dan masuknya kriket.
Keterkaitan antara Olimpiade dan kriket di pasar media India sudah terjalin erat. JioStar—gabungan Reliance Industries milik miliarder Mukesh Ambani dengan Walt Disney—memegang hak siar Olimpiade Paris 2024 dan Milano Cortina 2026, sekaligus hak siar IPL. Nita Ambani, istri Mukesh, merupakan anggota IOC dan menjadi tuan rumah Sidang IOC 2023 di Mumbai.
Kriket bisa kembali ke Olimpiade berkat perubahan drastis format pertandingan. Format tradisional seperti Test (lima hari) dan One-Day International (delapan jam) dianggap tidak praktis. Titik balik terjadi ketika Twenty20 (T20) yang hanya berdurasi tiga jam meledak popularitasnya, bertepatan dengan reformasi IOC 2014 yang mengizinkan tuan rumah mengusulkan cabang olahraga tambahan. Los Angeles pun memasukkan kriket T20 ke dalam program 2028.
Kepala Eksekutif International Cricket Council (ICC) Sanjog Gupta menilai T20 adalah format yang sempurna untuk Olimpiade. “Ketidakpastian yang menjadi daya tarik olahraga langsung dimaksimalkan dalam format ini,” kata Gupta. Tidak seperti Test yang terbatas pada 12 anggota penuh ICC, T20 bisa menjangkau lebih banyak negara. “Ini adalah jabat tangan kriket dengan dunia,” tambahnya.
Dampak bagi Asia dan Indonesia
Masuknya kriket ke Olimpiade tidak hanya menguntungkan India. Negara-negara Asia lain dengan basis kriket yang berkembang, seperti Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, dan Afghanistan, juga akan mendapatkan sorotan. Bagi Indonesia, meskipun kriket belum menjadi olahraga arus utama, keputusan IOC ini membuka peluang bagi atlet-atlet tanah air untuk berkompetisi di tingkat tertinggi. Federasi Kriket Indonesia (Forki) bisa memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan pembinaan usia dini dan meningkatkan partisipasi. Lebih luas lagi, keberhasilan India mendorong pencalonan Ahmedabad sebagai tuan rumah Olimpiade 2036 dapat menginspirasi negara-negara Asia Tenggara untuk bermimpi serupa.
Menurut Gupta, hampir 50 persen penggemar kriket berusia di bawah 35 tahun, dan 35 persen di bawah 27 tahun. Data ini menunjukkan kriket adalah olahraga yang “siap masa depan”. IOC berpotensi menuai “dividen demografis” besar-besaran seiring Olimpiade berusaha tetap relevan bagi generasi muda. “Kriket adalah olahraga tim skala besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Ini peluang besar bagi gerakan Olimpiade untuk ikut melaju,” pungkas Gupta.
Dengan potensi komersial yang luar biasa dan basis penggemar muda yang masif, kriket bukan sekadar tambahan biasa. Pertanyaannya: akankah Olimpiade 2028 menjadi titik awal dominasi India dalam perhelatan akbar olahraga dunia, atau justru menjadi bumerang bagi negara lain yang belum siap bersaing? Hanya waktu yang akan menjawab.



