Gempa Jepang Tewaskan 28 Orang, Ribuan Warga Bertahan di Tengah Gelombang Panas
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 6,8 di Kumamoto, Jepang, menewaskan 28 orang dan memicu ledakan di pusat perbelanjaan.
- Ribuan warga mengungsi di pusat evakuasi, sementara suhu mencapai 39ยฐC meningkatkan risiko sengatan panas.
- Pemerintah Jepang mengirim 300 unit AC ke lokasi bencana, namun pemulihan listrik masih berlangsung lambat.

Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 6,8 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, pada Selasa lalu telah menewaskan sedikitnya 28 orang. Otoritas setempat masih terus melakukan pencarian korban di tengah reruntuhan, sementara ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal harus bertahan di pusat evakuasi dalam kondisi cuaca ekstrem dengan suhu mencapai 39 derajat Celcius.
Guncangan utama yang berpusat di kedalaman dangkal 10 kilometer ini menyebabkan kerusakan parah pada rumah-rumah warga dan jaringan listrik. Lebih dari 30.000 rumah tangga masih padam hingga Rabu, dan 9.000 orang terpaksa mengungsi. Tim penyelamat dikerahkan untuk mencari korban selamat, terutama di dua lokasi utama: pusat perbelanjaan Aeon di Kashima dan pabrik Nippon Paper di Kota Yatsushiro.
Di pusat perbelanjaan Aeon, sebagian lantai dua ambruk dan satu jam kemudian terjadi ledakan yang diduga berasal dari kebocoran gas. Presiden Aeon menyatakan ledakan itu "sangat mungkin" disebabkan oleh gas, meskipun penyebab pastinya masih diselidiki. Bangunan tersebut baru saja dibuka kembali bulan lalu setelah sebelumnya rusak akibat gempa besar pada April 2016 yang menewaskan 278 orang. Di pabrik Nippon Paper, setidaknya lima orang tewas setelah bangunan pabrik ambruk sebagian. Sebelas orang terjebak di dalamnya, dan tujuh di antaranya berhasil dievakuasi.
Lebih dari 100 gempa susulan telah tercatat, membuat banyak warga memilih tidur di dalam mobil karena takut akan getaran lanjutan. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengumumkan pengiriman 300 unit pendingin udara ke Kumamoto, dengan 150 unit dialokasikan untuk pusat evakuasi. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga warga tetap terhidrasi dan terlindungi dari sengatan panas, mengingat suhu diperkirakan terus tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap gempa bumi dan bencana ikutan seperti kebakaran atau ledakan gas. Jepang dan Indonesia sama-sama berada di Cincin Api Pasifik, sehingga risiko gempa besar selalu mengintai. Pelajaran dari Kumamoto, terutama dalam hal evakuasi massal dan manajemen pengungsi di tengah cuaca ekstrem, relevan untuk diterapkan di daerah rawan gempa di Indonesia, seperti Aceh, Padang, dan Lombok.
Seorang warga Kumamoto, Hiroko Ogata (75), pemilik restoran di Yatsushiro, menuturkan kepada BBC bahwa ia bersembunyi di bawah meja saat gempa terjadi dan bergoyang hebat bersamanya. "Saya tinggal di sini selama 75 tahun, tetapi belum pernah mengalami gempa sebesar ini. Saya pikir saya akan mati," ujarnya. Kesaksian ini menggambarkan betapa dahsyatnya guncangan yang dirasakan warga.
Di tengah duka, ada kisah mengharukan: 25 kucing dari kafe kucing di dalam Aeon Mall yang sempat tertinggal saat kekacauan berhasil diselamatkan. Namun, fokus utama tetap pada upaya pencarian korban yang masih hilang dan pemulihan infrastruktur. Pertanyaan besarnya, akankah Jepang mampu mempercepat pemulihan dan mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak akibat panas ekstrem?



