25 Kucing Selamat dari Mal Runtuh Akibat Gempa Kumamoto: Kisah Heroik di Balik Evakuasi
Baca dalam 60 detik
- Petinju Uganda Aziz Abdul, cucu diktator Idi Amin, didiskualifikasi dari pertandingan Commonwealth Games setelah melakukan headbutt ke lawan asal Inggris.
- Abdul mengklaim keputusan wasit dipengaruhi oleh rasisme, merujuk pada statusnya sebagai 'pria kulit hitam Afrika'.
- Kekalahan ini menggagalkan ambisi Abdul meraih medali Commonwealth pertama Uganda sejak 1990, sekaligus mengulang kontroversi masa lalu keluarganya.

Dua puluh lima ekor kucing berhasil dievakuasi dari sebuah mal di Kashima, Prefektur Kumamoto, Jepang, setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan intensitas maksimum 7 mengguncang wilayah tersebut pada 28 Juli lalu. Operasi penyelamatan yang melibatkan pemadam kebakaran, polisi, dan staf kafe kucing "Cat Cafe MOFF" di Aeon Mall Kumamoto itu berlangsung dramatis, mengingat mal mengalami ledakan dan kerusakan struktural yang parah.
Menurut pernyataan resmi operator kafe yang dirilis pada 29 Juli, seluruh kucing ditemukan dalam kondisi tanpa luka fisik yang tampak. Tim penyelamat segera memberikan air minum dan perawatan dasar sebelum memindahkan hewan-hewan tersebut ke kendaraan staf. Rombongan kemudian menempuh perjalanan menuju toko induk di Prefektur Hiroshima, yang berlokasi cukup jauh dari zona bencana, untuk memastikan keamanan dan pemulihan mereka.
Dalam siaran persnya, operator kafe menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada aparat yang terlibat. Mereka berkomitmen untuk memantau kesehatan fisik dan mental kucing-kucing tersebut dengan bantuan dokter hewan dan staf spesialis. "Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk mengelola kesehatan mereka dan memberikan perawatan emosional," demikian pernyataan resmi operator. Langkah ini penting mengingat hewan peliharaan sering mengalami stres pascatrauma akibat gempa, yang bisa memengaruhi nafsu makan dan perilaku.
Peristiwa ini menyoroti kerentanan hewan dalam bencana alam, terutama di negara rawan gempa seperti Jepang. Di Indonesia, yang juga berada di Cincin Api Pasifik, kasus serupa pernah terjadi saat gempa Lombok 2018 dan gempa Cianjur 2022, di mana banyak hewan peliharaan terlantar atau mati karena minimnya prosedur evakuasi khusus. Kejadian di Kumamoto ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengelola tempat penampungan hewan dan pemerintah daerah di Indonesia untuk menyusun protokol penyelamatan hewan yang lebih terstruktur.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan kucing-kucing tersebut pulih sepenuhnya, baik secara fisik maupun mental, sebelum bisa dikembalikan ke operasional kafe atau diadopsi. Pertanyaan yang mengemuka: akankah insiden ini mendorong perubahan regulasi keselamatan hewan di tempat-tempat umum di Jepang dan negara lain, termasuk Indonesia?



