Gubernur Kaltara: LCC Empat Pilar Bukan Sekadar Lomba, Melainkan Investasi Kepemimpinan Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Kalimantan Utara membuka LCC Empat Pilar MPR RI 2026 yang diikuti sembilan sekolah, sebagai ajang pembentukan karakter dan wawasan kebangsaan.
- Kompetisi ini ditekankan sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat nasionalisme dan persiapan bonus demografi Indonesia Emas 2045.
- Provinsi perbatasan seperti Kaltara membutuhkan generasi muda yang berwawasan kebangsaan untuk menjaga integrasi nasional dan harmoni sosial.

Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang menegaskan bahwa Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI bukan sekadar ajang adu pengetahuan, melainkan kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin bangsa yang cerdas, berkarakter, dan mencintai tanah air—sebuah pernyataan yang disampaikan saat membuka kompetisi tingkat provinsi di Tarakan, Sabtu (25/7).
Kompetisi yang berlangsung di bawah tema Empat Pilar MPR RI—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—ini diikuti oleh sembilan sekolah menengah atas yang telah lolos seleksi dari 40 peserta awal. Kesembilan sekolah tersebut berasal dari berbagai kabupaten di Kalimantan Utara, mulai dari SMAN 1 Nunukan hingga SMAN 1 Tanjung Palas Timur. Menurut Zainal, ajang ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai dasar kebangsaan sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis dan kerja sama di kalangan pelajar.
Zainal menekankan bahwa pemahaman terhadap Empat Pilar tidak boleh berhenti pada hafalan demi memenangkan perlombaan. “Nilai-nilai itu harus dihayati dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Di sanalah letak kekuatan bangsa Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin. Ia menambahkan bahwa di tengah arus perubahan zaman, pendidikan karakter menjadi sama pentingnya dengan prestasi akademik. Bangsa yang besar, kata Zainal, membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, melainkan juga memiliki integritas, gotong royong, dan tanggung jawab terhadap negara.
Implikasi dari kompetisi ini menjadi semakin krusial mengingat posisi Kalimantan Utara sebagai provinsi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Zainal menggarisbawahi bahwa daerah perbatasan membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul dan berdaya saing, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan yang kuat serta mampu menjaga persatuan dalam keberagaman. “Keberagaman suku, agama, dan budaya bukan alasan untuk terpecah belah. Justru modal sosial yang harus dirawat melalui toleransi dan gotong royong,” kata Zainal.
Di sisi lain, momentum LCC Empat Pilar ini selaras dengan target nasional menuju Indonesia Emas 2045, saat Indonesia diprediksi menikmati bonus demografi dengan dominasi penduduk usia produktif. Menurut Zainal, bonus tersebut hanya akan menjadi peluang jika disertai pendidikan berkualitas, pembinaan karakter, dan penguatan ideologi kebangsaan. Sebaliknya, tanpa persiapan yang matang, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban pembangunan.
Zainal berpesan kepada para peserta untuk menjadikan kompetisi ini sebagai ruang belajar, bertukar pengalaman, dan mempererat persaudaraan antarpelajar di Kalimantan Utara. “Menang atau kalah bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah semangat terus belajar, saling menghargai, dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya. Pertanyaan yang kini menggantung adalah: akankah ajang serupa mampu menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia untuk mempersiapkan kader-kader pemimpin masa depan yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan?



