Buddhism Goes Hip: Menjemput Gen Z Korea Selatan dengan Festival dan Robot Biksu
Baca dalam 60 detik
- Fenomena 'hip Buddhism' di Korea Selatan sukses menarik minat Gen Z lewat festival musik, merchandise pop, dan kehadiran robot biksu.
- Meski popularitas budaya meningkat, jumlah pemeluk Buddha tak bertambah signifikan; mayoritas anak muda masih tak beragama.
- Adaptasi ini memicu kekhawatiran komersialisasi yang mengikis esensi ajaran, namun para biksu dan akademisi melihatnya sebagai evolusi wajar.

Di tengah arus sekularisasi yang deras, Buddhisme di Korea Selatan justru menemukan cara baru untuk tetap relevan: menjadi hip. Lewat festival musik, busana Buddha bermerek, hingga robot biksu yang ditahbiskan, agama ini berusaha merangkul generasi Z—sebuah strategi yang menuai pujian sekaligus kritik.
Sejak beberapa tahun terakhir, jalanan di sekitar kuil bersejarah Seoul dipenuhi toko seperti Buddhz yang menjual patung mini, gelang tasbih, hingga kaos bergambar Buddha sambil menggulir ponsel. Sebuah kartu pos menampilkan Buddha bersantai dengan gelembung sabun dan tulisan: “Tiupkan. Pecahkan. Lupakan.” Turis asing seperti Teja Manabotula (34) dari Kanada mengaku terkejut dengan tingkat komersialisasi ini. Namun, pendekatan pop culture itu terbukti ampuh: Seoul International Buddhist Expo tahun ini mencatat rekor 250.000 pengunjung—dua pertiganya adalah Gen Z, setengahnya tidak beragama.
Fenomena ini tidak hanya soal festival dan dagangan. Pariwisata bertema Buddha berkembang pesat—puluhan ribu orang setiap tahun mendaftar program “temple stay”, menginap di kuil, makan makanan biksu, bermeditasi, dan kadang diakhiri dengan konser elektronik atau hip-hop. Sun Min-ji (23), mahasiswi Buddha di Seoul, menyambut baik langkah ini: “Tidak ada yang salah dengan citra hip, karena menurunkan hambatan masuk dan menarik banyak teman saya.”
Namun, kekhawatiran muncul dari kalangan intern. Editorial di Harian Buddha Hyunbulnews memperingatkan: “Jika Buddhisme hanya dikonsumsi sebagai 'citra yang bagus', maka kegenitan ini mungkin hanya tren sesaat.” Ordo Jogye—aliran Buddha utama Korea—yang menjadi motor di balik tren ini, sadar akan risiko tersebut. Juru bicara Biksu Myojang mengakui, “Cara generasi muda terlibat dengan agama sedang berubah. Kami mencoba bertemu mereka di tempat mereka berada.” Namun, langkah kontroversial terjadi ketika robot humanoid “biksu” dilibatkan dalam upacara penahbisan pada Mei lalu—langsung menuai kritik karena dianggap meremehkan kehidupan monastik. Myojang membela penggunaan robot sebagai alat penyampai ajaran, namun berjanji akan “menetapkan pedoman yang lebih jelas tentang batasannya.”
“Jika Buddhisme hanya dikonsumsi sebagai 'citra yang bagus', maka kegenitan ini mungkin hanya tren sesaat.” — Harian Buddha Hyunbulnews
Di luar Korea, fenomena ini relevan untuk dicermati Indonesia. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar namun juga memiliki tradisi Buddha yang kuat, terutama di kalangan etnis Tionghoa, tren global ini bisa menginspirasi pendekatan dakwah atau spiritualitas yang lebih akrab dengan anak muda. Apakah akan ada “Hip Islam” dengan festival dan robot kiai? Ataukah ajaran agama akan terkikis oleh konsumerisme? Pertanyaan itu masih terbuka.
Brian Somers, asisten profesor studi Buddha di Universitas Dongguk Seoul, menilai adaptasi semacam ini wajar dalam sejarah agama. “Hip Buddhism adalah Buddhisme dalam bentuk yang disesuaikan, selama ajarannya tetap dipertahankan,” ujarnya. Namun data survei menunjukkan bahwa meski citra budaya meningkat, jumlah pemeluk Buddha tidak bertambah—16% sejak bertahun-tahun. Mayoritas penduduk Korea Selatan, terutama usia 18-29, menyatakan tidak beragama. Jo Yang-ok (78), seorang penganut Buddha senior, tidak keberatan dengan perubahan: “Generasi saya sering tidak bisa datang ke kuil karena sakit atau sudah tiada.” Pertanyaan besarnya kini: akankah strategi pop ini berhasil menarik lebih banyak penganut baru, atau hanya sekadar festival belaka?



