Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Quezon, Filipina: Aftershocks Diprediksi Terjadi
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,6 SR mengguncang perairan timur Jomalig, Quezon, pada Rabu malam, dengan kedalaman dangkal 10 km.
- Meskipun getaran dirasakan hingga Quezon City dan beberapa wilayah di Camarines Norte dan Sur, otoritas seismologi Filipina menyatakan tidak ada kerusakan properti yang diharapkan.
- Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi gempa susulan, sementara analisis lebih lanjut masih dilakukan oleh Phivolcs.

Badan seismologi Filipina, Philippine Institute of Volcanology and Seismology (Phivolcs), mengeluarkan peringatan dini akan potensi gempa susulan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang perairan timur laut Provinsi Quezon, Rabu (29/7) malam. Gempa yang terjadi pukul 22.11 waktu setempat ini berpusat di laut, sekitar 93 kilometer di timur Jomalig, Quezon, dengan kedalaman dangkal hanya 10 kilometer.
Menurut Phivolcs, gempa tersebut berasal dari aktivitas tektonik, bukan vulkanik. Kedalaman yang dangkal membuat getarannya terasa cukup kuat di sejumlah wilayah, meskipun episentrum berada di lepas pantai. Intensitas III skala Modified Mercalli Intensity (MMI) dilaporkan terasa di Kota Quezon, sementara getaran dengan intensitas lebih rendah juga tercatat di beberapa daerah lain.
Data instrumental Phivolcs menunjukkan bahwa getaran dengan intensitas III juga dirasakan di Jose Panganiban dan Mercedes, Camarines Norte, serta Guinayangan dan Infanta, Quezon. Sementara itu, intensitas II tercatat di Ragay, Iriga City, Pili, Sipocot, dan Sagnay, Camarines Sur. Meskipun demikian, pihak Phivolcs menegaskan bahwa gempa ini tidak diperkirakan menyebabkan kerusakan properti yang signifikan.
Meskipun tidak ada laporan kerusakan berarti, Phivolcs tetap mengingatkan masyarakat di sekitar wilayah terdampak untuk waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Gempa susulan umumnya memiliki magnitudo lebih kecil, namun tetap berpotensi menimbulkan kepanikan, terutama jika terjadi di malam hari. Otoritas setempat juga diminta untuk terus memantau situasi dan memberikan informasi terkini kepada publik.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, mengingat posisi geografis Indonesia yang juga berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Teknologi deteksi dini dan edukasi masyarakat menjadi kunci dalam meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian material. Kedutaan Besar RI di Manila belum mengeluarkan pernyataan terkait dampak gempa terhadap warga negara Indonesia di Filipina.
Ke depan, Phivolcs akan terus memperbarui data aktivitas seismik di wilayah tersebut. Masyarakat diharapkan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak terverifikasi dan selalu merujuk pada sumber resmi. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah gempa ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas seismik yang lebih besar di kawasan tersebut? Pemantauan lebih lanjut diperlukan untuk menjawabnya.



