Robot Gundam China Menginvasi Gudang Inggris: Revolusi Logistik atau Ancaman Tenaga Kerja?
Baca dalam 60 detik
- Geek+, pemasok robot otonom terbesar dunia, telah menguasai pasar gudang Inggris dengan lebih dari 2.000 unit beroperasi di 10 lokasi.
- Robot-robot ini mengatasi krisis tenaga kerja dan produktivitas rendah di Inggris, namun serikat pekerja khawatir akan pengurangan lapangan kerja.
- Keberhasilan ini menjadi batu loncatan bagi ambisi China mendominasi industri robotik global, meski AS baru saja memberlakukan larangan impor robot canggih.

Setiap kali konsumen Inggris menekan tombol "beli" di toko daring, dalam hitungan menit, sebuah robot perak mungil mulai bergerak di gudang—mengangkat rak, meluncur di lorong, dan menyodorkan barang ke tangan pekerja. Pemandangan ini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan kenyataan yang dihadirkan oleh Geek+, perusahaan robotik asal China yang telah menjadi pemasok robot otonom terbesar di dunia.
Di pabriknya di Hefei, China timur, ribuan robot dirakit dan diuji sebelum dikirim ke berbagai negara, termasuk Inggris. Raksasa ritel seperti Tesco, Asda, dan Next telah mengadopsi teknologi ini untuk mempercepat proses pengambilan barang, meningkatkan kapasitas penyimpanan, dan menekan angka kesalahan. Berbeda dengan sistem konveyor tradisional yang membutuhkan infrastruktur permanen, robot-robot ini hanya memerlukan penanda lantai berbasis kode QR dan pagar pengaman—solusi yang lebih fleksibel dan cepat dipasang.
Inggris, yang selama lebih dari satu dekade bergulat dengan pertumbuhan produktivitas yang lemah, melihat robotika sebagai jawaban. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporan terbarunya mencatat adopsi robotika di Inggris "mengejutkan" rendahnya, mengingat warisan manufakturnya. Celah inilah yang dimanfaatkan Geek+. Melalui mitra lokal MotionTech, lebih dari 2.000 robot telah beroperasi di 10 gudang, menjadikan Inggris pasar terbesar Geek+ di Eropa.
Barry Pemberton, Account Director MotionTech, menjelaskan bahwa pelanggan menginginkan solusi yang dapat diimplementasikan dengan cepat, bervolume tinggi, dan menghemat ruang serta tenaga kerja. "Kami kekurangan tenaga kerja yang sangat besar di Inggris saat ini. Teknologi ini penting untuk menjaga bisnis tetap berkembang dan memenuhi permintaan," ujarnya. Namun, serikat pekerja seperti Trades Union Congress (TUC) yang mewakili hampir 6 juta pekerja, mengingatkan agar robotika digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja, bukan sekadar memangkas biaya tenaga kerja. Dalam tanggapannya terhadap konsultasi pemerintah tentang strategi AI dan inovasi, TUC mendesak agar pekerja dilibatkan dalam keputusan otomatisasi dan perusahaan berinvestasi dalam pelatihan ulang.
Di balik kesuksesan ini, ada strategi besar Beijing. Presiden Xi Jinping menjadikan robotika sebagai prioritas dalam mendorong "kekuatan produktif baru berkualitas". Dengan populasi usia kerja China yang menyusut, otomatisasi dipandang krusial untuk mempertahankan keunggulan manufaktur. Kyle Chan, peneliti di Brookings Institution, mencatat bahwa ekosistem robotik China dibangun di atas fondasi kendaraan listrik (EV). Baterai, motor listrik, kamera, sensor, dan semikonduktor yang dikembangkan untuk EV kini digunakan di sektor robotik, menciptakan "ekosistem industri yang tumpang tindih". Contoh nyata adalah XPeng, produsen EV yang meluncurkan robot humanoid Iron tahun lalu. Pendirinya, He Xiaopeng, bahkan menyatakan bahwa perusahaannya bukan lagi sekadar pembuat mobil, melainkan perusahaan teknologi tinggi.
Ambisi China untuk mendominasi robotik global mendapat pukulan ketika AS melarang impor robot canggih asing pekan ini. Kedutaan Besar China di Washington mengecam langkah tersebut sebagai politisasi perdagangan dengan dalih yang tidak berdasar. Namun, di gudang-gudang Inggris, robot-robot China terus bekerja. Geek+ bahkan tengah mengembangkan solusi gudang tanpa awak secara menyeluruh—mulai dari pengambilan, penanganan, hingga pengemasan barang. Sementara itu, perusahaan seperti AgiBot dan Unitree menginvestasikan miliaran dolar untuk robot humanoid, meskipun kasus bisnisnya masih belum sejelas robot beroda. Para pengembang berpendapat bahwa lingkungan kerja dirancang untuk manusia, sehingga robot humanoid pada akhirnya bisa bekerja tanpa perlu mendesain ulang tempat kerja. Namun, Barry Pemberton meragukan humanoid akan mengubah lanskap otomatisasi dalam waktu dekat; ia melihatnya sebagai pelengkap, bukan pengganti.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Dengan pertumbuhan e-commerce yang pesat dan tantangan produktivitas, adopsi robot otonom di gudang bisa menjadi solusi. Namun, seperti di Inggris, keseimbangan antara efisiensi dan perlindungan tenaga kerja harus dijaga. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengikuti jejak Inggris menjadi lahan uji bagi ekspor teknologi robotik China, atau justru akan mengembangkan industrinya sendiri?



