Angharad Evans Buktikan Diri: Emas Perdana Skotlandia di Tengah Euforia Suporter
Baca dalam 60 detik
- Perenang Skotlandia Angharad Evans menyabet emas 100m gaya dada pada Commonwealth Games, mengalahkan Aimee Canny dari Afrika Selatan.
- Kemenangan ini menjadi emas keempat bagi tuan rumah Skotlandia dalam tiga hari, sekaligus pembuktian Evans yang sempat dianggap remeh oleh rival.
- Keberhasilan Evans di nomor favoritnya, 200m gaya dada, masih dinantikan pada Rabu mendatang.

Angharad Evans akhirnya mencuri perhatian. Perenang 23 tahun itu mempersembahkan medali emas keempat bagi Skotlandia di Commonwealth Games Glasgow setelah memenangi nomor 100 meter gaya dada, Minggu (8/8) malam. Dalam perlombaan yang berlangsung di Tollcross International Swimming Centre, Evans menahan laju Aimee Canny dari Afrika Selatan di lima meter terakhir, memicu ledakan sorak dari ribuan penonton tuan rumah.
Padahal, sebelum turnamen ini dimulai, nama Evans jarang disebut dalam prediksi peraih medali. Rekan setimnya, perenang multi-medali Duncan Scott, bahkan menyebut bahwa mengabaikan Evans adalah sebuah kesalahan besar. Kini pernyataan itu terbukti: Evans tidak hanya tampil sebagai yang tercepat di babak kualifikasi, tetapi juga sanggup mengelola tekanan final di hadapan publik sendiri.
Lahir di Cambridge, Inggris, Evans sebenarnya memiliki opsi membela Inggris atau Wales melalui orangtuanya. Namun, setelah menempuh studi di Universitas Stirling dan berlatih di bawah program renang Skotlandia, ia memutuskan untuk mewakili Skotlandia. Keputusan itu membuahkan hasil manis. "Skotlandia terasa seperti rumah. Mereka membuat saya menjadi atlet seperti sekarang. Saya bermimpi meraih emas dan mendengar sorakan penonton, dan ini seratus kali lebih besar dari mimpi saya," ujar Evans kepada BBC Sport Scotland usai lomba.
Yang menarik, Evans mengaku tidak merasakan tekanan berlebih saat berenang. Ia justru bersyukur atas dukungan penonton yang membantunya melewati rasa perih di lima meter akhir. "Ini bukan kerumunan terbesar yang pernah saya hadapi, tapi yang paling keras dan paling bersemangat. Saya merasakan energi dan cinta mereka," tambah perenang yang di Olimpiade Paris hanya finis keenam di nomor yang sama itu.
Kisah Evans mengingatkan pada perjuangan atlet diaspora yang memilih membela negara kedua. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi pada beberapa atlet keturunan yang akhirnya memperkuat tim nasional setelah menempuh pendidikan atau karier di luar negeri. Keberhasilan Evans membuktikan bahwa dukungan lingkungan dan suporter dapat menjadi faktor penentu, terutama dalam olahraga individu seperti renang yang mengandalkan mentalitas dan ketahanan fisik.
Bagi para pesaingnya, ini baru awal. Evans diyakini masih memiliki peluang lebih besar di nomor 200m gaya dada pada Rabu mendatangโnomor yang bahkan sebelum turnamen dianggap sebagai prospek medalinya yang paling realistis. Usai naik podium, Evans bercanda bahwa ia seharusnya mendapat "cone lalu lintas" sebagai hadiah, merujuk pada tradisi Skotlandia. Namun, seriusnya, ia tetap rendah hati: "Saya rasa tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan malam ini, tapi kita lihat saja nanti."
Pertanyaannya kini: bisakah Evans mengulang kejutan dan mempersembahkan emas kelima bagi Skotlandia? Jika penampilan di final 100m adalah indikasi, suporter Tollcross siap menjadi saksi babak baru dalam karier perenang yang sebelumnya terabaikan itu.



