Lucas Herbert Cetak Rekor LIV Golf: Kemenangan Kedua Musim Ini dengan Skor Terendah
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Australia Lucas Herbert mencatatkan skor 30-under par di LIV UK, terendah sepanjang sejarah tur tersebut.
- Herbert finish enam pukulan di depan Tyrrell Hatton, dengan Bryson DeChambeau tertinggal sembilan pukulan di posisi ketiga.
- Prestasi ini mengukuhkan dominasi Herbert di LIV Golf musim 2024 dan memicu diskusi soal masa depan tur yang didanai Arab Saudi.

Pegolf Australia Lucas Herbert menorehkan sejarah baru di pentas LIV Golf usai memenangi turnamen LIV UK di JCB Golf and Country Club, Staffordshire, dengan total skor 30-under par—yang menjadi skor kemenangan terendah dalam sejarah lima tahun tur yang didanai Dana Investasi Publik Arab Saudi tersebut, Minggu (28/7).
Pemain berusia 30 tahun itu memimpin sejak ronde pertama dan masuk ke ronde final dengan keunggulan tiga pukulan atas Bryson DeChambeau. Namun, alih-alih sekadar mempertahankan jarak, Herbert justru menggila dengan mencetak 10-under 62 pada hari Minggu—ronde terbaik sepanjang turnamen—dan finis dengan total 30-under. Kemenangan ini menjadi yang kedua baginya di LIV Golf musim ini setelah sukses di Virginia pada Mei lalu.
Herbert mengalahkan Tyrrell Hatton dari Inggris dengan selisih enam pukulan. Hatton yang tampil di hadapan publik sendiri harus puas dengan skor 24-under setelah mencatat 63 pada ronde final. DeChambeau, yang sempat diunggulkan, justru tertinggal sembilan pukulan di posisi ketiga dengan -21. Catatan 30-under Herbert memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh beberapa pemain lain di angka 29-under.
"Saya hanya ingin membawa momentum dari minggu lalu ke sini semaksimal mungkin, dan bermain seperti ini saat ditekan oleh dua pemain terbaik dunia terasa luar biasa," ujar Herbert, yang pekan sebelumnya finish di posisi keenam pada The Open Championship di Royal Birkdale, tertinggal empat pukulan dari juara Ryan Fox.
Kemenangan ini semakin mengukuhkan posisi Herbert sebagai salah satu pemain paling konsisten di LIV Golf musim ini. Namun, di balik gemerlap turnamen, bayang-bayang ketidakpastian masih menyelimuti masa depan LIV Golf. Martin Kaymer, mantan juara major asal Jerman, baru-baru ini menyatakan bahwa para pemain masih "gelap" mengenai kelanjutan tur yang kontroversial ini. LIV Golf telah menghadapi berbagai tuntutan hukum, kritik dari pegiat hak asasi manusia atas koneksi dengan Arab Saudi, serta persaingan ketat dengan PGA Tour dan DP World Tour.
Bagi penggemar golf di Indonesia, prestasi Herbert menjadi pemantik diskusi tentang apakah LIV Golf akan memperluas jangkauan ke Asia Tenggara. Sejauh ini, LIV belum pernah menggelar turnamen di Indonesia, meskipun kawasan Asia Tenggara memiliki basis penggemar golf yang besar. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga menjadi pasar potensial mengingat investasi Arab Saudi di sektor olahraga kian agresif—seperti kesepakatan Saudi Pro League di sepak bola. Namun, belum ada sinyal konkret dari LIV untuk menyelenggarakan event di Nusantara.
Pertanyaan yang tersisa adalah: mampukah Herbert mempertahankan performa ini hingga akhir musim, dan apakah LIV Golf akan mampu bertahan di tengah tekanan regulasi dan reputasi? Satu hal yang pasti, panggung golf global kini tak bisa lagi mengabaikan kehadiran LIV—dan pemain seperti Lucas Herbert menjadi bukti bahwa tur ini mampu melahirkan momen-momen luar biasa.



