Impian Masa Kecil Terwujud: Reuben Ward Raih Emas All-Around Glasgow 2026
Baca dalam 60 detik
- Reuben Ward, pesenam Skotlandia berusia 21 tahun, meraih emas all-around di Commonwealth Games Glasgow 2026, menggenapi mimpi yang dimulai sejak menyaksikan kemenangan Dan Keatings 12 tahun lalu.
- Dari posisi ketujuh setelah floor exercise, Ward melesat ke puncak berkat penampilan gemilang di pommel horse dan konsistensi di alat-alat berikutnya, termasuk banding skor yang berhasil menambah 0,100 poin.
- Keberhasilan ini bukan akhir; Ward masih berpeluang menambah medali di final perorangan floor dan pommel, sekaligus menjadi inspirasi bagi atlet muda global, termasuk di Indonesia, untuk mengejar mimpi.

Reuben Ward, pesenam Skotlandia berusia 21 tahun, resmi menjadi juara all-around Commonwealth Games Glasgow 2026 setelah tampil konsisten di enam alat, Minggu. Kemenangan ini menggenapi perjalanan panjang yang dimulai sejak ia menyaksikan langsung keberhasilan Dan Keatings merebut emas di Glasgow dua belas tahun silam.
Ward mengaku bahwa momen menonton Keatings di arena yang sama saat usia sembilan tahun telah membakar mimpinya untuk suatu hari nanti mengenakan seragam Skotlandia. “Saya ingat melihat bagaimana kemenangan itu berarti besar bagi banyak orang, dan saya berpikir, ‘Saya ingin melakukan itu’,” ujarnya. Lahir dari orang tua asal East Kilbride yang kemudian pindah ke Bury, Ward merasa gelar juara kali ini terasa sangat spesial karena diraih di kota yang bagaikan rumah kedua baginya.
Perjalanan menuju emas tidak mudah. Pada hari kedua kompetisi beregu, Skotlandia finis keempat, dan Ward harus puas di peringkat ketujuh setelah tampil di lantai. Namun, ia bangkit luar biasa di nomor andalannya, pommel horse, yang langsung mengantarnya ke puncak klasemen. Performa solid di gelang-gelang, lompat, dan palang sejajar—ditambah banding skor yang berhasil menambah 0,100 poin—membuatnya unggul tipis 0,550 poin memasuki palang horizontal. Dengan pendaratan sempurna, pelatih Jake Seager langsung berlutut merayakan, dan Ward pun resmi menjadi juara.
“Saya suka membayangkan skenario terbaik, dan itu adalah menang. Semalam saya sampai sulit tidur membayangkan momen ini, tapi kenyataannya jauh melampaui ekspektasi,” kata Ward. Ia juga mengakui kekecewaan di final beregu menjadi motivasi tambahan untuk tampil maksimal. Keberhasilan ini tidak hanya mengharumkan namanya, tetapi juga mengingatkan publik pada kekuatan mimpi dan kerja keras.
Meskipun Indonesia tidak berpartisipasi dalam Commonwealth Games, semangat Ward relevan bagi atlet muda Tanah Air. Seperti halnya pesenam Indonesia yang berjuang di SEA Games atau ajang internasional, perjalanan Ward menunjukkan bahwa mimpi bisa diwujudkan dengan ketekunan dan dukungan tim. Kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap atlet, dari latihan dasar hingga podium juara, membutuhkan momen-momen kecil yang membesarkan hati.
Ward masih memiliki peluang menambah medali pada final perorangan floor dan pommel, yang akan diikutinya pada Senin. Perayaan besar direncanakan bersama rekan setim pada Selasa, setelah seluruh perlombaan usai. “Saya sangat bersyukur dan tidak sabar untuk merayakan dengan anak-anak,” ujarnya. Pertanyaannya kini: mampukah ia mengulang keajaiban di dua nomor andalannya? Publik Skotlandia dan pencinta senam dunia menanti.



