Jatuh dari Palang Horizontal, Pesenam Inggris Gabriel Langton Sempat Khawatir Tak Bisa Kembali ke Senam
Baca dalam 60 detik
- Gabriel Langton mengalami kecelakaan di nomor palang horizontal saat Commonwealth Games, jatuh dari ketinggian tiga meter dan mendarat di kepala.
- Pesenam 19 tahun itu harus menjalani 20 jam dalam neck brace dan menunggu hasil MRI untuk memastikan tidak ada cedera permanen.
- Setelah dinyatakan hanya mengalami pembengkakan dan memar, Langton bertekad segera pulih dan kembali berlatih.

Ketakutan akan masa depannya sebagai atlet senam profesional sempat membayangi Gabriel Langton, pesenam asal Inggris, setelah ia terjatuh dari ketinggian tiga meter dan mendarat langsung dengan kepala di atas matras saat berlaga di Commonwealth Games. Insiden itu terjadi pada nomor palang horizontal di sesi final beregu, Jumat lalu.
Langton, 19 tahun, sebelumnya telah menuntaskan rutinitas di lantai, gelang-gelang, dan palang sejajar namun nahas saat mencoba beralih ke posisi handstand di palang horizontal. Kedua tangannya kehilangan cengkeraman, menyebabkan tubuhnya meluncur bebas sebelum bagian kepala menghantam matras. Kompetisi sempat dihentikan cukup lama untuk memberikan pertolongan. Langton dievakuasi menggunakan troli dan kemudian tandu, lalu dilarikan ke rumah sakit dengan neck brace.
Di rumah sakit, ia menjalani pemindaian MRI yang menunjukkan adanya pembengkakan dan memar di area kepala dan leher. Hasil itu membuatnya bisa meninggalkan rumah sakit Sabtu malam setelah menjalani observasi lebih dari 20 jam. Awalnya Langton merasa frustrasi dan malu, namun kekhawatiran terbesarnya adalah soal kelangsungan karier senamnya. โSaya tahu saya masih bisa bicara dan menggerakkan jari tangan serta kaki, jadi pertanyaan utama saya adalah: semoga saya bisa melakukan senam lagi,โ ujarnya kepada BBC. โPertanyaan itu terus menghantui saya selama 20 jam sampai hasil MRI keluar.โ
Kecelakaan di olahraga senam, meski jarang terjadi, selalu menyisakan risiko serius. Bagi atlet muda seperti Langton, insiden ini menjadi pengingat akan batas antara keberanian dan keselamatan. Di Indonesia, meskipun kasus serupa tak banyak terekspos, komunitas senam tanah air juga waspada akan potensi cedera fatal. Federasi Senam Indonesia terus mendorong penerapan standar keamanan alat dan prosedur darurat di setiap kejuaraan, baik nasional maupun internasional.
Langton mengaku masih merasakan sedikit nyeri dan kaku, namun ia tak mau terlalu mengeluh. โIni sudah bisa diduga. Saya tidak bisa terlalu banyak mengeluh,โ katanya. Setelah dinyatakan boleh pulang, ia kembali ke hotel tim dan disambut tepuk tangan rekan satu tim yang telah meraih medali perak. Medali itu ia terima di hotel, bukan di arena. Momen itu sangat berarti baginya. โMelihat semua rekan setim, pelatih, dan mendapatkan medali. Saya juga bertemu pelatih pribadi saya dari Birmingham. Sungguh menyenangkan.โ
Tanpa ada nomor sisa yang harus diikutinya, Langton justru hadir di arena pada hari Minggu untuk mendukung rekan-rekannya di final all-around putra. Ia berencana untuk beristirahat beberapa hari, menjalani rehabilitasi, lalu kembali berlatih dalam waktu dekat. โSaya percaya pada kemampuan senam saya. Ini benar-benar kecelakaan yang langka,โ tambahnya.
Kembalinya Langton ke arena dalam waktu singkat menegaskan mental baja seorang atlet. Namun, insiden ini juga menimbulkan pertanyaan tentang seberapa siap sistem medis dan psikologis dalam mendampingi atlet pasca-kecelakaan. Dengan masih panjangnya karier di depannya, apakah Langton akan mampu kembali ke level performa puncak tanpa bayang-bayang trauma?



