Kekhawatiran Investasi AI Kembali Hantui Pasar Saham Tokyo, Nikkei Terperosok
Baca dalam 60 detik
- Nikkei jatuh 1,49% ke level terendah dua bulan akibat skeptisisme terhadap imbal investasi AI.
- Topix justru naik 0,26% karena dana beralih ke saham otomotif dan sektor tertinggal lainnya.
- Pelemahan yen ke kisaran 163 per dolar AS terjadi menjelang keputusan suku bunga The Fed.

Bursa saham Tokyo ditutup bervariasi pada Rabu (29/7) dengan indeks Nikkei sempat merosot lebih dari 3% di sesi awal, dipicu kekhawatiran global atas prospek keuntungan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI). Meski aksi beli murah membatasi penurunan, indeks utama Jepang itu tetap mencatat level terendah dalam dua bulan terakhir.
Indeks Nikkei 225 turun 930,73 poin atau 1,49% menjadi 61.434,19, sementara Topix yang lebih luas justru naik tipis 10,44 poin (0,26%) ke 3.974,03. Pergerakan ini mencerminkan rotasi dana investor dari saham teknologi ke sektor tradisional seperti otomotif dan barang karet. Di sisi lain, saham logam nonbesi serta keramik dan kaca menjadi pemberat utama.
Tekanan pada saham AI dan semikonduktor tidak hanya terjadi di Jepang. Indeks Kospi Korea Selatan juga melemah setelah pendapatan SK Hynix yang berada di bawah ekspektasi, meski perusahaan tersebut mencatat laba operasional kuartalan rekor. Para investor kini semakin ragu apakah investasi besar-besaran di AI akan menghasilkan imbal hasil yang memadai, terutama setelah lonjakan belanja modal sejumlah raksasa teknologi global.
“Pelemahan saham berteknologi tinggi menekan sentimen pasar,” ujar Masahiro Ichikawa, kepala strategi pasar di Sumitomo Mitsui DS Asset Management. Pernyataan ini menggarisbawahi kegelisahan yang kian meluas di kalangan pelaku pasar menjelang musim laporan keuangan.
Di pasar valas, dolar AS sempat melemah ke kisaran 163 yen seiring investor menyesuaikan posisi menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve. Keputusan suku bunga yang akan diumumkan nanti malam berpotensi memicu volatilitas lebih lanjut, terutama jika ada sinyal perubahan arah kebijakan.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat akan kerentanan pasar saham domestik terhadap sentimen global. Investor ritel dan institusi di Tanah Air perlu mencermati pergerakan indeks Nikkei dan Kospi yang kerap menjadi leading indicator bagi IHSG. Saat sektor teknologi global tertekan, saham-saham berbasis AI dan startup digital di Bursa Efek Indonesia juga berpotensi mengalami koreksi, meski proporsinya masih kecil. Di sisi lain, rotasi ke sektor otomotif dan barang konsumen bisa menjadi peluang bagi emiten otomotif Indonesia yang terintegrasi dengan rantai pasok Jepang.
Saham perusahaan Jepang yang memiliki fasilitas di Prefektur Kumamoto—wilayah yang baru saja diguncang gempa—juga sempat tertekan. Aeon dan Nippon Paper Industries melaporkan adanya korban jiwa di pabrik mereka, menambah sentimen negatif di pasar. Meski dampaknya terbatas dan hanya bersifat sementara, kejadian ini mengingatkan investor akan risiko geografis yang melekat pada operasi perusahaan.
“Fund rotation into lagging stocks, including automakers, helped lift the broader Topix index and trim losses in the benchmark Nikkei.” — dari laporan Kyodo.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah sejauh mana laporan keuangan kuartal kedua dari perusahaan teknologi global—seperti Nvidia, AMD, dan Microsoft—akan mampu memulihkan kepercayaan investor terhadap AI. Jika hasilnya kembali mengecewakan, bukan tidak mungkin tekanan jual akan berlanjut dan merembet ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.



