Hasto Kristiyanto: Ide Anak Muda adalah Api Perubahan Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Sekjen PDIP meresmikan Public Pulse 28, forum diskusi untuk 28 anak muda di Sekolah Partai, Lenteng Agung.
- Hasto mengaitkan semangat Sumpah Pemuda 1928 dengan perlawanan rakyat saat tragedi Kudatuli 1996.
- Wadah ini diharapkan melahirkan pemimpin intelektual baru yang mampu mendorong transformasi sosial-politik di Indonesia.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa perubahan besar dalam sejarah Indonesia dan dunia selalu berawal dari gagasan anak muda. Hal itu disampaikan dalam peresmian gerakan intelektual muda progresif bernama Public Pulse 28 yang digelar di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (21/1).
Forum yang diikuti oleh 28 anak muda ini menjadi wadah bagi generasi milenial dan Gen Z untuk merumuskan solusi atas tantangan bangsa. Hasto mengibaratkan pemuda sebagai “api” yang menyala dengan cita-cita, mimpi, dan harapan masa depan. Ia menekankan bahwa selama ini PDIP membuka ruang seluas-luasnya bagi imajinasi yang terinspirasi dari tokoh-tokoh perjuangan, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, hingga Tan Malaka.
Dalam sambutannya, Hasto juga merelevansikan ikrar Sumpah Pemuda 1928 dengan “Sumpah Rakyat” yang lahir secara organik saat tragedi Kudatuli pada 27 Juli 1996. Menurutnya, momentum Kudatuli mampu memformulasikan ulang tiga poin sumpah pemuda menjadi semangat perlawanan terhadap penindasan demokrasi. “Kami, pemuda Indonesia” berubah menjadi “Kami, rakyat Indonesia”, “bertanah air satu, tanah air Indonesia” menjadi “tanah air tanpa penindasan”, “berbangsa satu” menjadi “bangsa yang gandrung keadilan”, dan “berbahasa satu” menjadi “bahasa kebenaran”.
Lebih lanjut, Hasto mengajak peserta merefleksikan kejeniusan WR Supratman yang menciptakan lagu Indonesia Raya di usia muda di tengah kolonialisme, serta Bung Karno yang di usia 26 tahun berani mendirikan Partai Nasional Indonesia. “Bagaimana kita bisa menghancurkan kolonialisme terbesar saat itu? Dimulai dari ide anak muda,” ujarnya. Ia juga menyinggung Revolusi Prancis yang digerakkan oleh segelintir intelektual untuk mengubah tatanan feodalisme.
Public Pulse 28 menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, seperti Co-Founder What is Up Indonesia, Abigail Limuria, dan ekonom INDEF, Berly Martawardaya. Diskusi dipandu oleh politisi muda PDIP, Muhammad Syaeful Mujab. Ke depan, Hasto berharap wadah ini mampu melahirkan kepemimpinan intelektual yang berakar pada persoalan nyata masyarakat. Pertanyaannya, mampukah Public Pulse 28 menjadi inkubator gagasan yang benar-benar berdampak pada perubahan kebijakan, atau hanya akan menjadi forum diskusi tanpa aksi nyata?



