BTN: Minat Masyarakat Memiliki Rumah Tetap Tinggi, KPR Subsidi Terjaga
Baca dalam 60 detik
- Direktur BTN menegaskan minat masyarakat terhadap kepemilikan rumah masih tinggi hingga akhir 2026, didorong oleh permintaan yang persisten.
- Pertumbuhan KPR perbankan melambat menjadi 4,4% (YoY) pada Juni 2026, namun kredit properti secara keseluruhan masih tumbuh dua digit.
- BTN mengembangkan basis data antrean pembeli yang dipadukan dengan rekam jejak menabung untuk mengukur kemampuan angsuran calon debitur.

Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Hirwandi Gafar menyatakan keyakinannya bahwa minat masyarakat terhadap kepemilikan rumah tetap tinggi hingga akhir tahun 2026, meskipun sektor properti nasional tengah menghadapi perlambatan pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR).
Data Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) industri perbankan melambat menjadi 4,4 persen (year-on-year) pada Juni 2026, turun dari 4,7 persen pada bulan sebelumnya. Namun, kredit properti secara keseluruhan masih tumbuh 17,6 persen secara tahunan, mengindikasikan bahwa segmen lain seperti kredit konstruksi dan properti komersial masih bergerak.
Menurut Hirwandi, perlambatan KPR dipengaruhi oleh sejumlah faktor struktural, antara lain terbatasnya ketersediaan lahan, proses perizinan yang berbelit, serta kebijakan perlindungan lahan sawah yang membatasi pasokan rumah baru. Di sisi lain, masyarakat juga tengah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya di tengah kondisi ekonomi yang menantang, meskipun dampaknya terhadap permintaan rumah dinilai tidak signifikan.
Untuk mengatasi kesenjangan antara minat dan realisasi pembiayaan, BTN tengah menyusun basis data antrean calon pembeli rumah yang diintegrasikan dengan rekam jejak menabung. Pendekatan ini memungkinkan bank mengukur kapasitas keuangan calon debitur secara lebih akurat, sehingga pembiayaan yang diberikan sesuai dengan kemampuan angsuran bulanan. "Dengan rekam jejak menabung, kami bisa tahu kemampuan sebenarnya setiap bulan," ujar Hirwandi dalam seminar nasional di Jakarta, Selasa.
Kualitas pembiayaan perumahan bersubsidi BTN tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di kisaran 1 persen per Juni 2026. Adapun NPL kredit konsumer secara keseluruhan tercatat sekitar 2,7 persen. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan melambat, risiko kredit masih terkendali.
Di tengah tantangan pendanaan industri, BTN menargetkan bisnis perbankan konsumer tumbuh 8โ10 persen sepanjang 2026. Perseroan akan terus memperkuat kerja sama dengan pengembang dan memanfaatkan basis data calon pembeli untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan perumahan. Langkah ini penting mengingat KPR subsidi masih menjadi motor utama penyaluran kredit ke segmen masyarakat berpenghasilan rendah.
Ke depan, keberhasilan strategi BTN akan bergantung pada kemampuan mengatasi hambatan suplai, seperti ketersediaan lahan dan perizinan, serta mempertahankan minat beli masyarakat yang masih tinggi. Akankah basis data inovatif ini mampu mendongkrak realisasi KPR di tengah tekanan eksternal?


