Capello Tolak Mancini sebagai Pelatih Italia: Maldini Ngaku Dimanfaatkan
Baca dalam 60 detik
- Fabio Capello secara terbuka menentang pencalonan Roberto Mancini sebagai pelatih timnas Italia, menyebutnya sebagai langkah yang tidak tepat.
- Paolo Maldini mengundurkan diri dari jabatan direktur teknis setelah dua pekan, merasa otonominya dalam memilih pelatih Andrea Pirlo tidak dihormati.
- Krisis di federasi sepak bola Italia (FIGC) menambah tekanan menjelang kualifikasi Piala Dunia 2026, dengan figur kuat seperti Capello mendesak perubahan haluan.

Fabio Capello, mantan pelatih tim nasional Italia dan figure legendaris, secara terbuka menolak keras kemungkinan Roberto Mancini ditunjuk sebagai pelatih baru Azzurri. Dalam pernyataan yang disampaikan kepada media Italia, Capello menilai bahwa pengunduran diri Paolo Maldini dari jabatan direktur teknis adalah hal yang wajar, setelah sang bek legendaris tersebut merasa kewenangannya dalam menentukan pelatih baru—Andrea Pirlo—telah diabaikan oleh Presiden FIGC, Giovanni Malagò.
Kekacauan di tubuh federasi sepak bola Italia (FIGC) kembali memuncak ketika Maldini dan penasihatnya, Leonardo, memutuskan mundur hanya dua pekan setelah resmi menjabat. Mereka menilai bahwa keputusan Malagò yang menolak mengonfirmasi penunjukan Pirlo sebagai pelatih utama merupakan bentuk intervensi yang merusak otonomi teknis yang dijanjikan sebelumnya. Capello, yang pernah menangani timnas Italia antara 1991 dan 1996, menegaskan bahwa satu-satunya figur yang layak memimpin tim saat ini bukanlah Mancini, melainkan seseorang yang lebih paham dengan kultur sepak bola Italia.
Pertarungan internal ini terjadi di saat Italia tengah bersiap menghadapi babak kualifikasi Piala Dunia 2026. Ketiadaan pelatih tetap dan gejolak di level manajemen dinilai dapat mengganggu kesiapan tim. Capello pun menekankan bahwa FIGC harus segera mengambil keputusan bijak, bukan sekadar mengikuti tren nama besar seperti Mancini yang saat ini tengah menganggur setelah meninggalkan timnas Arab Saudi.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat betapa pentingnya stabilitas manajerial dalam tim nasional. Indonesia sendiri kerap menghadapi gejolak serupa di level PSSI, di mana intervensi kepentingan politik kerap menghambat otonomi teknis. Kasus Italia menunjukkan bahwa bahkan federasi sekelas FIGC pun tak luput dari konflik internal yang bisa merugikan prestasi tim.
Capello, yang kini berusia 78 tahun, menambahkan bahwa Maldini 'merasa digunakan' oleh federasi. Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa hubungan antara para mantan pemain dan pengurus federasi sedang renggang. Pirlo, yang sempat dianggap sebagai solusi jangka panjang, kini menjadi korban dari pertarungan kekuasaan yang lebih besar. Sementara itu, nama-nama seperti Mancini, Luciano Spalletti, dan bahkan beberapa pelatih asing mulai dikaitkan dengan kursi panas pelatih Italia.
Ke depannya, FIGC harus segera menggelar pertemuan darurat untuk menentukan arah baru. Pertanyaan besarnya: mampukah federasi menyatukan visi di tengah tekanan publik dan internal? Atau justru krisis ini akan menjadi babak baru kemunduran sepak bola Italia, yang pernah empat kali juara dunia? Jawabannya akan menentukan nasib Azzurri di panggung global mendatang.



