Italia Kembali ke Pangkuan Mancini: Sang Maestro Ditunjuk Lagi Pasca Kegagalan ke Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini resmi kembali menjabat pelatih Timnas Italia, menggantikan Gennaro Gattuso yang mundur setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022.
- Keputusan ini diumumkan langsung oleh Presiden FIGC Giovanni Malago, dengan harapan Mancini bisa mengulang sukses Euro 2021.
- Langkah Italia ini menjadi sorotan global, termasuk di Indonesia yang memiliki basis penggemar sepak bola Eropa yang besar dan rajin mengikuti perkembangan taktik.

Roberto Mancini kembali dipercaya menangani skuad Timnas Italia, setelah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) secara resmi menunjuk mantan pelatih yang membawa Gli Azzurri juara Eropa 2021 itu menggantikan Gennaro Gattuso. Keputusan ini diambil setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia kedua secara berturut-turut, sebuah noda hitam bagi negara peraih empat gelar juara dunia tersebut.
Gattuso meninggalkan posisinya pada April lalu setelah kekalahan 0-1 dari Bosnia dan Herzegovina pada babak kualifikasi Piala Dunia, yang membuat Italia harus menyaksikan putaran final dari rumah untuk ketiga kalinya secara beruntun. Kegagalan itu memicu krisis kepercayaan terhadap proyek regenerasi yang digagas FIGC, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pada figur yang sudah terbukti——Mancini.
Presiden FIGC Giovanni Malago mengonfirmasi penunjukan tersebut dalam rapat dewan federal. “Mancini adalah pelatihnya,” ujarnya tegas, menandai era baru yang diharapkan mampu mengembalikan kegemilangan Italia di kompetisi internasional. Mancini, 61 tahun, menjadi arsitek di balik kesuksesan Italia menjuarai Euro 2021 dengan permainan menyerang yang atraktif, suatu pencapaian yang langka bagi tim yang dikenal pragmatis.
Bagi Indonesia, pergantian pelatih Timnas Italia bukan sekadar berita sepak bola global. Dengan tingginya minat penggemar sepak bola Tanah Air terhadap liga-liga Eropa dan turnamen internasional, langkah FIGC ini memberikan wawasan tentang bagaimana federasi besar menangani tekanan dan mencari solusi jangka pendek. Banyak pengamat lokal menilai bahwa keberanian FIGC untuk kembali ke sosok yang sudah dikenal menunjukkan pentingnya stabilitas kepelatihan di tengah hiruk-pikuk hasil instan.
Penunjukan Mancini bukan tanpa risiko. Setelah sukses di Euro, ia harus menghadapi kritik karena gagal mempertahankan performa di kualifikasi Piala Dunia. Namun, pengalamannya dalam mengembangkan pemain muda seperti Nicolò Barella dan Federico Chiesa diyakini menjadi aset berharga. Pelatih asal Italia itu juga diharapkan mampu menyatukan ruang ganti yang sempat terpecah pasca kegagalan.
Ke depan, tugas utama Mancini adalah mengamankan tiket ke Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Kualifikasi dimulai pada 2025, dan FIGC memberikan kepercayaan penuh padanya untuk merancang ulang skuad. Pertanyaan besarnya, akankah Mancini mampu mengulang keajaiban seperti yang ia lakukan di Euro? Atau justru sejarah kegagalan di kualifikasi akan kembali terulang?



