Wasit Eropa Sepakat: VAR Kembali ke Filosofi Awal, Hanya Koreksi Kesalahan Nyata
Baca dalam 60 detik
- Kepala wasit dari 55 asosiasi sepak bola Eropa sepakat VAR hanya boleh digunakan untuk membatalkan keputusan yang jelas-jelas salah, bukan untuk menganalisis secara mikroskopis setiap insiden.
- UEFA menegaskan bahwa VAR bukan alat untuk mengulang wasit, melainkan pendukung yang harus menjaga peran wasit di pusat pengambilan keputusan.
- Kesepakatan ini berimplikasi pada perubahan interpretasi aturan, termasuk penanganan kesalahan identitas pemain yang tercatat dalam Piala Dunia 2022.

Kepala wasit dari seluruh 55 asosiasi sepak bola Eropa yang tergabung dalam UEFA sepakat bahwa Video Assistant Referee (VAR) hanya boleh digunakan untuk memperbaiki keputusan yang bersifat blatant atau jelas-jelas keliru, serta insiden serius yang terlewat. Keputusan ini diambil dalam pertemuan pekan lalu yang juga dihadiri perwakilan International Football Association Board (IFAB).
Sejak diperkenalkan di Piala Dunia 2018 dan kemudian di Liga Primer Inggris musim 2019-2020, VAR kerap menuai kritik karena dianggap memperlambat permainan dan melakukan intervensi berlebihan. Dalam pertemuan tersebut, para peserta menilai bahwa tinjauan berkepanjangan dan mikroskopis telah menyimpang dari filosofi awal VAR, yaitu "intervensi minimal, manfaat maksimal". Filosofi itu sendiri dirancang untuk mengurangi ketidakadilan akibat kesalahan jelas atau insiden serius yang terlewat terkait gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas.
UEFA dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa VAR bukanlah alat untuk me-referee ulang pertandingan. "VAR adalah dukungan penting bagi wasit, yang harus tetap menjadi pusat pengambilan keputusan. Tinjauan panjang dan mikroskopis sering kali menjadi gejala bahwa keputusan di lapangan tidaklah jelas dan nyata salah, sehingga harus dibatasi," demikian pernyataan UEFA.
Salah satu poin yang dibahas adalah klarifikasi IFAB mengenai aturan kesalahan identitas pemain. Dalam Piala Dunia 2022, pemain Swiss Breel Embolo menjadi pemain pertama yang mendapat kartu merah akibat aturan baru itu. Saat itu, Leandro Paredes awalnya mendapat kartu kuning, namun setelah intervensi VAR, Embolo diusir keluar karena diving. IFAB kemudian menjelaskan bahwa VAR hanya boleh meninjau kartu kuning untuk mengidentifikasi pemain yang melakukan pelanggaran, bukan untuk meninjau atau mengubah jenis pelanggaran itu sendiri.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi catatan penting. Sejak Liga 1 Indonesia mulai menerapkan VAR pada musim 2022-2023, polemik serupa kerap muncul. Keputusan kontroversial tetap terjadi meskipun sudah ada bantuan teknologi. Penerapan filosofi "intervensi minimal" bisa menjadi acuan agar VAR tidak justru menambah kebingungan. Ke depannya, wasit Indonesia perlu menyesuaikan dengan standar global yang menekankan efisiensi dan akurasi tanpa mengorbankan aliran pertandingan.
Selain VAR, pertemuan tersebut juga mendukung perubahan aturan untuk mengurangi waktu terbuang, seperti batas waktu tendangan gawang, lemparan ke dalam, dan pergantian pemain, serta penanganan cedera di lapangan. Semua ini bertujuan menjaga tempo permainan tetap tinggi. Apakah wasit di Indonesia siap mengikuti perubahan ini?



