Angela Tanoesoedibjo Petik Pelajaran dari Timnas Norwegia: Perindo Butuh Fondasi Kuat
Baca dalam 60 detik
- Ketua Umum Partai Perindo Angela Tanoesoedibjo menganalogikan perjuangan partainya dengan perjalanan timnas Norwegia yang kembali ke Piala Dunia setelah 28 tahun absen.
- Perindo menggelar bimbingan teknis bagi 380 kader DPRD terpilih sebagai bagian dari strategi pembangunan organisasi dan peningkatan kapabilitas.
- Angela menekankan bahwa keberhasilan politik memerlukan kesabaran, konsistensi, dan kerja kolektif, mirip dengan pembinaan sepak bola jangka panjang.

Ketua Umum Partai Perindo Angela Tanoesoedibjo secara gamblang menyebutkan bahwa tim nasional sepak bola Norwegia menjadi tolok ukur perjuangan partainya di kancah politik Indonesia. Dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, ia menjelaskan bahwa semang pantang menyerah Negeri Skandinavia itu relevan dengan proses penguatan Perindo saat ini.
Norwegia, yang absen dari panggung Piala Dunia selama 28 tahun, akhirnya kembali berlaga pada ajang 2026 berkat pembenahan sistem pembinaan pemain muda, akademi, dan fondasi berkelanjutan. Angela melihat kesamaan dengan situasi partainya yang tengah merawat organisasi, membangun kader yang kompeten, serta memupuk kepercayaan publik. โPerindo hari ini juga berada dalam proses yang serupa,โ ujarnya.
Sebagai wujud konkret, partai berlambang rajawali itu menggelar bimbingan teknis bagi 380 kader yang terpilih sebagai anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kegiatan yang berlangsung pada 27โ30 Juli 2026 ini dirancang untuk memperkuat kapasitas legislator muda. Menurut Angela, acara tersebut adalah bagian integral dari pembangunan jangka panjang partai.
โMasyarakat saat ini membutuhkan lebih dari sekadar pejabat. Mereka butuh pemimpin yang hadir, mendengar, bekerja, dan mampu menghadirkan solusi,โ tegas Angela dalam kesempatan yang sama.
Di tengah peta politik nasional yang dinamis, langkah Perindo untuk meminjam narasi dari dunia olahraga menjadi strategi komunikasi yang menarik. Analis politik menilai bahwa analogi sepak bola mampu menyederhanakan pesan transformasi organisasi yang kerap terkesan abstrak. โNorwegia mengajarkan bahwa kegigihan dalam membangun sistem pada akhirnya membuahkan hasil,โ kata pengamat yang enggan disebut namanya.
Bagi pemilih Indonesia, pendekatan Perindo ini bisa menjadi angin segar di tengah politik transaksional. Namun, tantangan tetap besar: partai harus membuktikan bahwa strategi jangka panjang ini tidak sekadar retorika. Apakah Perindo akan mampu menembus batas ambang parlemen pada pemilu mendatang, seperti Norwegia yang kembali ke panggung dunia sepak bola? Jawabannya bergantung pada konsistensi seluruh kader dan organisasi dalam menjalankan cetak biru yang telah dirancang.



