Mediasi Dasco: Hotman Paris dan PWI Sepakat Cabut Laporan demi Persatuan
Baca dalam 60 detik
- Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco mempertemukan pengacara Hotman Paris dengan Ketua PWI Akhmad Munir di Jakarta untuk meredakan polemik.
- PWI menyatakan akan mencabut laporan polisi terhadap Hotman Paris terkait dugaan penghinaan profesi wartawan.
- Pertemuan yang difasilitasi figur politik ini menandai langkah rekonsiliasi di tengah ketegangan antara advokat dan organisasi wartawan.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menjadi penengah dalam pertemuan antara pengacara kondang Hotman Paris Hutapea dan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Akhmad Munir, Selasa siang di Jakarta. Momen silaturahmi yang diunggah di Instagram Dasco itu langsung diikuti keputusan strategis: PWI akan mencabut laporan polisi terhadap Hotman Paris atas dugaan penghinaan terhadap wartawan.
Dalam foto yang dibagikan, ketiga tokoh tampak berjabat tangan di sebuah meja makan di kawasan Jakarta. Dasco menuliskan keterangan, "Persatuan Indonesia. Silaturahmi bersama Ketua Umum PWI @munir.akhmad dan @hotmanparisofficial hari ini." Langkah ini menjadi sinyal bahwa konflik yang memanas antara Hotman Paris dan kalangan wartawan mulai mereda.
Munir membenarkan bahwa ia bersama Hotman diundang khusus oleh Dasco untuk mengedepankan persatuan bangsa, khususnya setelah polemik antara pengacara berambut pirang itu dengan wartawan mencuat. "Dicabut, dicabut. Nanti dicabut (laporan polisi terhadap Hotman)," ujar Munir singkat ketika dikonfirmasi, menegaskan arah rekonsiliasi.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menerima laporan resmi dari PWI Pusat terhadap Hotman Paris. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengonfirmasi bahwa laporan tersebut tengah dipelajari penyidik. Dengan adanya kesepakatan pencabutan laporan, proses hukum yang sempat bergulir kemungkinan besar akan dihentikan. Namun, penyidik tetap akan mempelajari materi laporan sebelum mengambil langkah sesuai prosedur.
Pertemuan ini menarik perhatian karena melibatkan figur publik dan organisasi profesi yang selama ini kerap bersitegang. Hotman Paris dikenal vokal dalam kritiknya terhadap pemberitaan, sementara PWI sebagai wadah wartawan berkepentingan menjaga martabat profesi. Mediasi oleh seorang politikus sekaliber Dasco menunjukkan bahwa isu ini telah merambah ranah politik nasional. Di Indonesia, campur tangan tokoh politik dalam sengketa publik sering kali menjadi jalan keluar, namun juga menuai kritik karena dianggap mengintervensi kemandirian hukum.
Bagi pengamat komunikasi publik, langkah ini bisa dibaca sebagai upaya meredam polarisasi di tengah masyarakat yang mudah terbelah akibat kasus sensitif seperti penghinaan profesi. "Ini adalah langkah konkret untuk menjaga iklim demokrasi dan kebebasan pers yang sehat," ujar seorang akademisi komunikasi yang enggan disebutkan namanya. Meski demikian, sejumlah pihak berharap penyelesaian kasus serupa ke depannya lebih banyak dilakukan melalui jalur hukum yang transparan, bukan mediasi politik.
Konflik antara Hotman Paris dan wartawan bukanlah pertama kalinya. Dalam beberapa tahun terakhir, pengacara yang kerap tampil di televisi itu beberapa kali berselisih dengan jurnalis, baik secara langsung maupun di media sosial. Polemik terbaru dipicu oleh pernyataan Hotman yang dianggap merendahkan profesi wartawan, sehingga PWI mengambil langkah hukum. Namun, dengan adanya pertemuan rekonsiliasi ini, babak baru hubungan keduanya pun terbuka.
Ke depan, publik masih menanti apakah pencabutan laporan akan benar-benar dilakukan secara formal, dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan antara hotman Paris dengan kalangan pers secara lebih luas. Satu pertanyaan mengemuka: apakah mediasi seperti ini akan menjadi preseden bagi penyelesaian sengketa serupa di Indonesia, atau justru menimbulkan tanda tanya baru tentang independensi penegakan hukum?



