Serangan AS ke Iran Meluas, Harga Minyak Tembus US$100
Baca dalam 60 detik
- Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara ke-13 ke Iran, memicu balasan Iran terhadap pangkalan AS di kawasan Teluk.
- Ketegangan memicu lonjakan harga minyak mentah ke level tertinggi sejak Mei, disertai gangguan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
- Bagi Indonesia, eskalasi ini mengancam stabilitas harga BBM dan inflasi domestik karena ketergantungan pada impor minyak.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengerahkan kekuatan militer besar-besaran ke Iran pada Jumat (24/7) setelah gencatan senjata sementara gagal meredakan konflik yang telah berlangsung hampir lima bulan. Serangan rudal AS menghantam markas Angkatan Laut Garda Revolusi di Gilan serta kota Ahvaz, menewaskan empat orang dan melukai lima lainnya menurut laporan penyiar negara Iran, IRIB.
Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Kurdistan Irak. Militer Kuwait mengaku berhasil mencegat sejumlah target musuh, sementara Yordania melaporkan menembak jatuh tujuh rudal dan enam drone Iran. Meskipun ada ancaman pembalasan, Trump di Gedung Putih menyatakan masih membuka peluang negosiasi, meski ia juga menegaskan, “Kami sudah siap, amunisi terisi penuh.”
Konflik ini berdampak langsung pada pasar energi global. Selasa lalu, serangan Houthi—sekutu Iran—terhadap dua kapal tanker Saudi di Bab el-Mandeb mendorong harga minyak Brent naik 7% hingga menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Namun pada Jumat sore, harga kembali turun ke kisaran US$96. Gangguan di Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, semakin parah: hanya satu kapal tanker yang melintas pada Kamis, terendah sejak awal Mei.
Konteks Indonesia — Kenaikan harga minyak global langsung memengaruhi anggaran subsidi energi Indonesia, yang tahun ini telah membengkak. Pemerintah mengimpor sekitar 700.000 barel minyak per hari, sehingga setiap lonjakan US$10 per barel berpotensi menambah beban APBN hingga puluhan triliun rupiah. Selain itu, jalur pelayaran alternatif melalui Selat Suez dan Afrika akan memperpanjang waktu tempuh kapal pengangkut minyak mentah, berisiko mengerek biaya logistik dan harga barang impor di dalam negeri.
Sementara itu, upaya diplomatik mulai terlihat. Pakistan, yang didorong China, tengah menjajaki kembali perundingan antara Washington dan Teheran. Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, melakukan kunjungan kedua ke Islamabad dalam sepuluh hari terakhir untuk pembicaraan eksploratif. Namun, Trump belum memutuskan apakah akan melanjutkan serangan skala besar ke target-target strategis seperti ladang energi, jembatan, atau Pulau Kharg—pusat ekspor minyak Iran.
Pertanyaan yang belum terjawab: akankah eskalasi ini berujung pada perang terbuka yang lebih luas di Timur Tengah, atau justru memaksa kedua pihak kembali ke meja perundingan? Yang jelas, ketidakpastian masih akan terus membayangi perekonomian global dan Indonesia dalam beberapa pekan ke depan.



