Serangan Balasan Rusia-Ukraina Tewaskan 21 Orang, Pameran Alutsista Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Rudal Rusia menghantam pameran industri pertahanan di luar Kyiv, menewaskan 10 orang dan melukai hampir 100 lainnya.
- Ukraina membalas dengan menyerang pabrik komponen rudal di Kirov (6 tewas) dan gudang Wildberries di Saint Petersburg.
- Serangan ini terjadi di tengah lonjakan korban sipil yang menurut PBB naik 37% pada semester pertama 2025 dibanding 2024.

Setidaknya 21 orang tewas dalam gelombang serangan jarak jauh yang saling dilancarkan Rusia dan Ukraina pada Jumat (24/7), dengan sasaran termasuk pameran alutsista di pinggiran Kyiv dan pabrik militer di timur Moskow. Eskalasi ini terjadi saat diplomasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung empat setengah tahun itu masih macet.
Dalam insiden paling mematikan, rudal Rusia menghantam lokasi pameran industri pertahanan di barat daya Kyiv, menewaskan 10 orang dan melukai sekitar 100 lainnya. Jaksa Agung Ukraina, Ruslan Kravchenko, langsung membuka penyelidikan kriminal terhadap penyelenggaraan acara tersebut untuk menilai apakah risiko keamanan sudah diperhitungkan dengan baik dalam kondisi darurat perang. Serangan ini menjadi yang terbaru dari serangkaian rudal balistik Rusia yang menyasar pertemuan militer Ukraina.
Di kota Sloviansk di garis depan, bom udara Rusia menewaskan lima warga sipil dan merusak konsulat kehormatan Latvia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam serangan tersebut di media sosial, menyatakan bahwa Rusia telah lama meninggalkan norma internasional dan nilai-nilai kemanusiaan. “Satu-satunya minat mereka adalah terus membunuh,” tulisnya.
Sebagai balasan, militer Ukraina melancarkan serangan drone dan rudal jarak jauh ke wilayah Rusia. Di kota Kirov, lebih dari 1.000 km dari garis depan, enam orang tewas dan 26 luka-luka akibat serangan terhadap sebuah pabrik yang menurut Zelenskyy memasok komponen untuk rudal dan pesawat Rusia. Gubernur Kirov, Alexander Sokolov, membenarkan target tersebut. Di Saint Petersburg, kota asal Presiden Vladimir Putin, gudang milik raksasa e-commerce Wildberries dibom untuk ketiga kalinya dalam sepekan, memicu kepulan asap hitam di atas kota bersejarah itu. Kyiv menuduh Wildberries menyimpan komponen drone dan membantu militer Rusia.
Serangan Ukraina ke kota-kota utama Rusia ini dulunya tak terbayangkan saat Kremlin melancarkan invasi pada 2022 dengan keyakinan akan kemenangan cepat dan kehidupan di dalam negeri tak terganggu. Kini, warga Rusia mulai merasakan dampaknya. Anna, seorang guru berusia 50 tahun di Saint Petersburg, mengatakan serangan itu hanya membuat masyarakat marah dan justru mendukung kelanjutan ofensif. Namun, opini ini tidak tercermin di media Rusia yang menerapkan sensor ketat sejak perang dimulai.
Bagi Indonesia, konflik yang terus memanas ini membawa implikasi langsung. Lonjakan korban sipil yang menurut PBB meningkat 37% pada semester pertama 2025 (hampir dua kali lipat dari jumlah sepanjang 2024) menandakan belum ada titik terang. Serangan Ukraina ke infrastruktur militer Rusia, meskipun taktis, berisiko memicu eskalasi lebih lanjut yang bisa mengganggu pasokan gandum dan energi global—dua komoditas kritis bagi Indonesia. Ketidakpastian ini juga mendorong pemerintah Indonesia untuk terus mendorong jalur diplomasi, meski peluang gencatan senjata masih suram.
“Ini adalah tragedi mengerikan. Musuh melancarkan serangan balistik pada acara yang diselenggarakan oleh asosiasi produsen swasta,” kata Andriy Grytseniuk, kepala kelompok pertahanan Brave1 yang didukung negara.
Ke depan, pola serangan jarak jauh yang semakin sering dan mematikan menunjukkan bahwa kedua pihak enggan mundur. Pertanyaan besarnya: mampukah tekanan korban sipil dan gejolak di dalam negeri masing-masing—seperti ledakan kemarahan di Rusia dan kelelahan perang di Ukraina—memaksa mereka ke meja perundingan? Atau justru akan mendorong eskalasi lebih luas, termasuk penggunaan senjata yang lebih destruktif?



