Harga Minyak Anjlok 8% Pasca Jeda Serangan AS-Iran, Wall Street Tertekan Saham Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Brent merosot ke US$88,36 per barel setelah Washington dan Teheran menghentikan sementara aksi militer yang sempat mendorong harga di atas US$100.
- Pasar saham global terbelah: bursa Eropa dan Asia menguat, namun Wall Street gagal bertahan akibat aksi jual saham teknologi seperti Nvidia.
- Penurunan harga minyak berpotensi meringankan beban subsidi energi Indonesia dan menekan inflasi, tetapi ketidakpastian geopolitik masih membayangi.

Harga minyak mentah dunia ambles lebih dari 8 persen pada Senin (27/7) setelah Amerika Serikat dan Iran menahan diri dari serangan balasan, meredakan kekhawatiran akan konflik terbuka di Selat Hormuz sekaligus memberikan napas lega bagi pasar keuangan global.
International benchmark Brent ditutup di US$88,36 per barel, turun signifikan dari level US$100 yang sempat disentuh pekan lalu saat ketegangan memuncak. Awal Juli, Iran menyerang kapal-kapal di perairan Oman yang memicu respons militer AS, mematahkan gencatan senjata rapuh yang sebelumnya terjalin. Namun, utusan khusus Presiden Trump untuk PBB menyatakan bahwa Washington "memberi ruang bagi perundingan".
Analis menilai situasi masih rapuh. Kathleen Brooks, direktur riset XTB, mengatakan bahwa meskipun ketegangan mereda, penyelesaian jangka panjang belum tercapai sehingga harga minyak sulit turun di bawah US$85. Sementara David Morrison dari Trade Nation menambahkan bahwa investor berharap jeda ini menjadi awal perundingan damai. Peredaan konflik langsung mengurangi tekanan inflasi global dan membuka peluang bank sentral untuk tidak menaikkan suku bunga, mendorong bursa saham Eropa dan Asia menguat. Frankfurt naik 1 persen, sedangkan Tokyo, Seoul, Hong Kong, dan Shanghai mencatat kenaikan.
Namun, Wall Street gagal mempertahankan reli pagi. Indeks Dow Jones masih positif, tetapi NASDAQ Composite tertekan oleh aksi jual saham teknologi, terutama Nvidia yang merosot tajam. Chris Beauchamp dari IG menyebut bahwa kegagalan pasar memanfaatkan meredanya ketegangan sebagai sinyal adanya masalah lebih dalam. Sentimen negatif juga dipicu laporan terobosan Shanghai Yuliangsheng yang mempercepat kemandirian industri chip China, menekan saham semikonduktor AS. Di Asia, saham produsen memori China CXMT melonjak 465 persen pada debutnya di Shanghai, menarik dana IPO sebesar US$9,8 miliar.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak menjadi kabar baik di tengah tekanan fiskal. Sebagai importir minyak bersih, setiap penurunan US$1 per barel diperkirakan mengurangi beban subsidi BBM hingga triliunan rupiah dan memperbaiki defisit neraca perdagangan. Namun, ketidakpastian geopolitik masih membayangi, terlebih jika jeda ini hanya bersifat sementara. Pekan ini, pelaku pasar juga mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve dan Bank of England, serta laporan keuangan raksasa teknologi seperti Microsoft, Meta, Apple, dan Amazon yang akan memengaruhi arah investasi global.
Dengan meredanya ketegangan Timur Tengah, harga minyak berpotensi stabil di kisaran US$85โ90 per barel dalam jangka pendek, asalkan tidak ada provokasi baru. Namun, para analis mengingatkan bahwa fondasi gencatan senjata masih rapuh. Pertanyaan selanjutnya: akankah AS dan Iran benar-benar duduk di meja perundingan, atau jeda ini hanya taktik untuk mengatur strategi? Jawabannya akan menentukan arah inflasi dan kebijakan moneter global, termasuk dampaknya terhadap perekonomian Indonesia yang rentan terhadap gejolak harga energi.



