Azis Subekti: Pengganti Perry Warjiyo Harus Jaga Independensi BI dan Dorong Produktivitas
Baca dalam 60 detik
- Anggota DPR Azis Subekti menekankan bahwa Gubernur BI pengganti Perry Warjiyo wajib mempertahankan independensi bank sentral sekaligus mendukung peningkatan produktivitas nasional.
- Perry Warjiyo mengundurkan diri secara resmi pada 26 Juli lalu, dan Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas gubernur hingga pengganti definitif ditetapkan.
- Transisi ini terjadi di tengah tekanan ekonomi global, sehingga pemilihan figur yang tepat dinilai krusial untuk menjaga stabilitas rupiah dan daya saing investasi.

Anggota DPR RI Azis Subekti mendesak agar Gubernur Bank Indonesia definitif pengganti Perry Warjiyo tidak sekadar menjaga independensi dan kredibilitas bank sentral, tetapi juga mampu menciptakan kondisi yang mendorong produktivitas nasional. Menurutnya, stabilitas moneter harus menjadi landasan bagi pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar tujuan akhir.
Pemerintah telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo pada Minggu, 26 Juli, dengan alasan pribadi. Hingga saat ini, Presiden Prabowo Subianto belum mengumumkan calon pengganti. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditunjuk sebagai pejabat sementara hingga gubernur baru diangkat. Proses transisi ini mendapat sorotan luas karena terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan nilai tukar, perubahan rantai pasok, dan meningkatnya persaingan investasi.
Azis menegaskan bahwa prioritas utama dalam transisi ini adalah menjaga kepercayaan publik dan pasar terhadap independensi kebijakan moneter. Ia mengingatkan bahwa stabilitas bukanlah tujuan final, melainkan titik berangkat untuk mentransformasi perekonomian Indonesia. โStabilitas merupakan fondasi untuk meningkatkan produktivitas,โ ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Politisi Fraksi Golkar itu menggarisbawahi bahwa figur yang akan duduk sebagai Gubernur BI harus memiliki integritas, kompetensi teknokratis, dan pengalaman menghadapi gejolak ekonomi. Ia menolak anggapan bahwa orientasi produktivitas berarti menambah mandat BI atau menjadikannya pelaksana pembangunan. Sebaliknya, orkestrasi kebijakan antara moneter, fiskal, industri, dan sektor riil harus tetap menghormati independensi masing-masing lembaga.
Menurut Azis, BI selama ini telah memiliki instrumen kebijakan di bidang moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, dan pendalaman pasar keuangan. Bauran kebijakan tersebut, katanya, dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembiayaan produktif. โYang dibutuhkan adalah orkestrasi, bukan subordinasi. Setiap lembaga tetap menjalankan mandatnya, tetapi seluruhnya bergerak menuju peningkatan kapasitas produktif bangsa,โ jelasnya.
Pernyataan Azis sejalan dengan pernyataan BI sebelumnya yang menekankan bahwa kebijakan dan ketersediaan dana dalam sistem keuangan harus memberikan manfaat nyata kepada pelaku usaha, petani, pedagang, perajin, wirausaha muda, dan UMKM. Dengan demikian, gubernur baru diharapkan tidak hanya pandai menjaga nilai tukar, tetapi juga mampu mengorkestrasi kebijakan yang berdampak langsung pada sektor riil.
Proses seleksi Gubernur BI definitif diprediksi akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan. Publik dan pelaku pasar menanti siapa figur yang akan dipilih Presiden Prabowo untuk mengemban amanat ini. Apakah orientasi produktivitas yang digaungkan Azis akan menjadi kriteria utama dalam pemilihan, atau stabilitas moneter semata yang akan dikedepankan?



