Potret Ratu Elizabeth yang Belum Pernah Terlihat Dilelang demi Riset Parkinson
Baca dalam 60 detik
- Tiga cetakan artist's proof potret Ratu Elizabeth II karya Chris Levine akan dilelang, dengan satu di antaranya belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
- Sebagian hasil lelang disumbangkan untuk riset Parkinson, penyakit yang secara pribadi memengaruhi keluarga pemilik koleksi, Gustavo Egusquiza.
- Potret ikonik 'Lightness of Being' menjadi bagian dari koleksi National Portrait Gallery London dan dianggap sebagai salah satu potret kerajaan paling berpengaruh di abad ke-21.

Sebuah potret Ratu Elizabeth II yang belum pernah dilihat publik akan segera dilelang. Karya fotografer dan seniman cahaya Chris Levine ini tidak hanya menawarkan nilai artistik langka, tetapi juga misi amal: sebagian hasil penjualannya akan disumbangkan untuk penelitian penyakit Parkinson.
Tiga cetakan artist's proof berukuran 30 × 30 cm ini merupakan sidik jari eksklusif yang dibuat di luar edisi bernomor. Dua di antaranya sebelumnya hanya muncul dalam rilis editorial terbatas—satu dimuat oleh Vanity Fair untuk memperingati seratus tahun kelahiran Ratu Elizabeth, dan lainnya ditampilkan di media internasional. Namun, cetakan ketiga belum pernah diterbitkan, dipamerkan, atau ditawarkan untuk dijual, menjadikan lelang ini pemutaran perdananya.
Levine, seniman asal Inggris-Kanada, dikenal dengan pendekatan inovatifnya yang menggabungkan cahaya, laser, dan spiritualitas dalam potret. Karyanya yang paling terkenal, Lightness of Being—menampilkan Ratu Elizabeth dengan mata terpejam tenang—telah diakui sebagai salah satu potret fotografi paling menentukan abad ke-21 dan menjadi koleksi permanen National Portrait Gallery di London. Ketiga cetakan yang akan dilelang ini lahir dari sesi pemotretan yang sama pada 2004 dan 2008, sehingga menawarkan kilasan langka ke dalam momen bersejarah tersebut.
Pemilik karya, jurnalis dan konsultan komunikasi asal Spanyol Gustavo Egusquiza, memiliki hubungan emosional yang mendalam dengan penyakit Parkinson. "Parkinson telah menyentuh keluarga saya sendiri, membuat lelang ini sangat berarti bagi saya," ujarnya dalam pernyataan. Ia berharap penjualan potret ini tidak hanya melestarikan babak penting dalam sejarah fotografi, tetapi juga mendorong kemajuan riset dan perawatan bagi para penderita Parkinson.
Meski berlatar internasional, aksi lelang amal ini juga relevan bagi Indonesia. Kegiatan serupa di Tanah Air—seperti lelang karya seni untuk riset kesehatan—masih jarang terjadi. Langkah Egusquiza dapat menjadi inspirasi bagi kolektor lokal untuk menggabungkan nilai seni dan filantropi, terutama mengingat prevalensi Parkinson di Indonesia yang diperkirakan terus meningkat seiring populasi menua.
Detail lelang, termasuk rumah lelang dan tanggal penjualan, akan diumumkan dalam waktu dekat. Pertanyaannya kini: seberapa besar dampak dana yang terkumpul terhadap riset Parkinson, dan akankah tren filantropi seni serupa merebak di Indonesia?



