Enam Gunung di Indonesia Berstatus Siaga: Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Menyebar ke Lima Provinsi
Baca dalam 60 detik
- Gunung Anak Krakatau kembali meletus pada Minggu malam, memicu status siaga dan penyebaran abu hingga ke DKI Jakarta.
- Selain Anak Krakatau, lima gunung lainโSinabung, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibuโmasih dalam level waspada tinggi, mengancam penerbangan dan kesehatan.
- PVMBG terus memantau aktivitas vulkanik, dengan potensi dampak pada sektor penerbangan dan pariwisata di wilayah terdampak.

Aktivitas vulkanik di Indonesia kembali memanas. Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda mengalami erupsi pada Minggu (6/9) malam, memuntahkan abu vulkanik yang menyebar hingga ke lima provinsi. Kejadian ini menegaskan status siaga yang telah disematkan sejak awal Juli lalu, sekaligus menjadi pengingat akan ancaman yang belum mereda.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, dalam konferensi pers daring, mengungkapkan bahwa sebaran abu vulkanik dari erupsi yang terjadi pukul 20.23 WIB itu telah terdeteksi di Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu. Informasi ini diperoleh dari gabungan data erupsi, VONA PVMBG melalui Magma Indonesia, VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG. Artinya, dampak letusan tidak hanya dirasakan di sekitar kawah, tetapi juga menjangkau wilayah padat penduduk dan pusat ekonomi.
Fenomena ini menempatkan Anak Krakatau dalam daftar enam gunung yang berstatus Siaga (Level III) di Indonesia. Selain Anak Krakatau, ada Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang statusnya dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga pada 31 Agustus lalu. Pengamatan pada Jumat (4/9) menunjukkan asap kawah putih tebal setinggi 300-500 meter dari puncak. Sementara itu, Gunung Semeru di Jawa Timur masih bertahan di Level III sejak Januari, dan erupsi kembali terekam pada Senin (7/9) pukul 04.50 WIB, meski kolom abu tidak teramati secara visual.
Di kawasan timur Indonesia, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur dan Gunung Ibu di Halmahera Utara juga menunjukkan aktivitas yang mengkhawatirkan. Ili Lewotolok yang berstatus Siaga sejak Juli 2025, kembali erupsi dengan kolom abu setinggi 500 meter pada Minggu malam. Gunung Ibu, yang sempat turun status dari Awas ke Siaga pada Januari 2025, juga meletus dengan ketinggian letusan mencapai 500 meter.
Bagi warga di sekitar gunung berapi, status siaga ini bukan sekadar angka. Ini berarti potensi bahaya letusan yang lebih besar, dengan rekomendasi untuk menjauhi area kawah dan lembah aliran lahar. Namun, dampaknya juga terasa hingga ke sektor penerbangan. Abu vulkanik yang beterbangan dapat mengganggu visibilitas dan merusak mesin pesawat, sehingga sejumlah rute penerbangan di wilayah terdampak berpotensi dialihkan atau ditunda. Maskapai dan otoritas bandara pun harus terus berkoordinasi dengan PVMBG dan BMKG untuk memantau perkembangan.
Para ahli vulkanologi menilai bahwa peningkatan aktivitas di beberapa gunung secara bersamaan ini perlu diwaspadai, meski belum tentu mengindikasikan letusan besar. "Yang perlu diperhatikan adalah pola erupsi yang cenderung berkelanjutan, seperti yang terjadi di Semeru dan Anak Krakatau," ujar seorang analis kebencanaan yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat dan infrastruktur pemantauan menjadi kunci dalam mengurangi risiko.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah aktivitas vulkanik ini akan mereda atau justru meningkat. Dengan enam gunung dalam status siaga, pemerintah daerah dan pusat dituntut untuk memperkuat sistem peringatan dini dan edukasi publik. Bagi masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar gunung atau di jalur sebaran abu, memantau informasi resmi dari PVMBG dan BMKG menjadi langkah bijak. Apakah koordinasi antarlembaga dan kesiapan logistik akan mampu menjawab tantangan ini?



