Maldini dan Pirlo Bersatu Lagi: Dua Legenda Italia Kini Atur Strategi di Tim Nasional
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini, direktur teknis anyar Timnas Italia, disebut-sebut mengincar Andrea Pirlo sebagai pelatih kepala setelah Pep Guardiola menolak tawaran FIGC.
- Keduanya, yang pernah bermain bersama di AC Milan, memiliki hubungan erat namun tak pernah sekalipun membela Italia di waktu yang sama.
- Jika terwujud, duet Maldini-Pirlo bisa mengubah arah sepak bola Italia, dengan implikasi bagi persaingan di level global termasuk peluang timnas negara lain.

Paolo Maldini dan Andrea Pirlo, dua nama legendaris yang pernah mengharumkan AC Milan, kembali menjadi sorotan setelah keduanya disebut akan mengisi pos kunci di tubuh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Maldini yang baru diangkat sebagai direktur teknis Azzurri dikabarkan menjadikan Pirlo sebagai kandidat utama pelatih kepala, menggantikan Luciano Spalletti yang mundur usai Piala Eropa 2024.
Kabar ini mencuat setelah Pep Guardiola menolak tawaran FIGC. Maldini, yang bertugas memilih pelatih berikutnya dengan persetujuan Presiden FIGC Giovanni Malagò, langsung teringat pada rekan lamanya. Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Maldini sebenarnya sudah berniat merekrut Pirlo sebagai pelatih AC Milan pada 2023, sebelum ia dipecat oleh manajemen Rossoneri. Jika saat itu ia bertahan, besar kemungkinan Pirlo akan menggantikan Stefano Pioli yang akhirnya bertahan satu musim lagi di San Siro.
“Memang benar, kami sempat membicarakannya, tapi itu hanya obrolan antar teman,” ujar Pirlo pada Oktober 2023 lalu. Kini, obrolan itu bisa berubah menjadi kenyataan di panggung yang lebih besar: tim nasional Italia.
Maldini dan Pirlo sama-sama menjadi bagian dari era keemasan AC Milan, meraih dua gelar Liga Champions, dua Scudetto, satu Coppa Italia, dua Piala Super Eropa, dan satu Piala Dunia Antarklub. Namun, keduanya tak pernah bermain bersama di tim nasional. Maldini memainkan laga terakhirnya bersama Italia pada Piala Dunia 2002, tepatnya saat dikalahkan Korea Selatan di babak 16 besar. Beberapa bulan kemudian, pada September 2002, Pirlo menjalani debutnya melawan Azerbaijan, masuk menggantikan Filippo Inzaghi di menit ke-77. Saat itu, Pirlo baru memulai musim keduanya bersama Milan.
Hubungan keduanya tak hanya kuat di atas lapangan, tapi juga di luar. Maldini bahkan termasuk orang pertama yang tahu bahwa Pirlo akan menjadi pelatih Juventus pada musim panas 2020. “Saya meneleponnya untuk memberi selamat atas penunjukannya sebagai pelatih U23. Saya bercanda, ‘Kamu tidak akan pergi ke Turin untuk melatih tim utama, kan?’ Dan dia menjawab, ‘Bagaimana kamu tahu?’ Saya adalah salah satu orang pertama yang mengetahuinya. Awalnya hanya lelucon, ternyata menjadi kenyataan,” kenang Maldini.
Jika skenario ini terwujud, Italia akan memiliki duet manajerial yang unik: dua mantan pemain bintang yang belum pernah bermain bersama di level internasional, namun memiliki ikatan emosional dan pemahaman taktik yang mendalam. Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati karena Italia kerap menjadi barometer sepak bola Eropa. Jika Maldini dan Pirlo berhasil membangun kembali kejayaan Azzurri, gaya permainan Italia bisa kembali menjadi acuan bagi banyak negara, termasuk Indonesia yang tengah giat mengembangkan sepak bola nasional.
Pertanyaan besarnya: mampukah Pirlo, yang belum sukses sebagai pelatih klub, mengulang kesuksesan sebagai arsitek tim nasional? Atau justru Maldini yang akan menjadi otak di balik layar, seperti yang ia lakukan di Milan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: persahabatan dua legenda ini akan menjadi fondasi yang kokoh—atau justru bumerang—bagi masa depan sepak bola Italia.



