Kisruh di FIGC: Pertemuan Senin Tentukan Nasib Maldini Usai Pirlo Gagal Jadi Pelatih
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini mengancam mundur dari jabatan direktur teknis FIGC setelah rencana menunjuk Andrea Pirlo sebagai pelatih timnas Italia diblokir.
- Pemblokiran terjadi karena Pirlo terikat kontrak sebagai duta merek bandar judi Rusia Fonbet, yang melanggar aturan ketat periklanan judi di Italia.
- Ketua FIGC Giovanni Malagò akan bertemu dengan Maldini pada Senin untuk membujuknya tetap bertahan; jika gagal, FIGC harus mencari pengganti baru.

Pertemuan antara Paolo Maldini dan Ketua FIGC Giovanni Malagò pada Senin mendatang akan menentukan apakah legenda AC Milan itu tetap menjabat sebagai direktur teknis atau memilih mundur setelah rencana penunjukan Andrea Pirlo sebagai pelatih timnas Italia gagal total.
Maldini baru dua minggu lalu diangkat ke posisi tersebut, namun langsung dihadapkan pada konflik internal. Bersama penasihatnya, Leonardo, ia mendorong penunjukan Pirlo sebagai pelatih kepala setelah Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola menolak tawaran. Namun, langkah itu buntu ketika terungkap bahwa Pirlo menjadi duta global untuk Fonbet, perusahaan judi asal Rusia. Status tersebut bertentangan dengan aturan pemerintah Italia yang melarang keras periklanan judi, terutama yang melibatkan figur publik.
Tekanan politik yang meningkat akhirnya membuat FIGC memblokir kandidatur Pirlo. Maldini dan Leonardo merasa dikhianati karena dukungan mereka diabaikan. Menurut La Gazzetta dello Sport, situasi ini memicu ancaman pengunduran diri Maldini, yang menilai bahwa keputusan tersebut melampaui wewenangnya sebagai direktur teknis.
Malagò dijadwalkan bertemu dengan Maldini dan Leonardo pada Senin di kantor FIGC. Ia akan mencoba membujuk Maldini untuk tetap bertahan dengan menekankan bahwa tanggung jawab di tim nasional berbeda dengan di level klub, dan presiden memiliki hak veto. Namun, La Gazzetta dello Sport melaporkan bahwa misi ini tidak mudah. Jika Maldini bersikukuh mundur, Malagò harus menerima dan memulai lagi proses rekrutmen direktur teknis baru.
“Malagò ingin Maldini menunjukkan kepercayaan yang sama seperti yang telah diberikan kepadanya. Namun, Maldini merasa langkah pemblokiran Pirlo telah merusak otoritasnya,” tulis laporan tersebut.
Konflik serupa bisa terjadi di Indonesia. PSSI, sebagai federasi sepak bola, juga memiliki aturan ketat terkait sponsor judi. Jika PSSI menunjuk pelatih dengan afiliasi seperti Pirlo, tekanan publik dan regulator bisa menggagalkan rencana. Kasus ini menjadi pelajaran bahwa integritas dan kepatuhan pada regulasi harus menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan di level tertinggi sepak bola.
Jika Maldini benar-benar hengkang, FIGC akan kehilangan sosok yang baru memulai tugasnya. Proses pencarian pengganti bisa memakan waktu dan mengganggu persiapan timnas Italia untuk kompetisi mendatang. Akankah pertemuan Senin mampu meredakan ketegangan, atau justru menjadi titik balik bagi struktur kepemimpinan FIGC?



